Dua Perkara Wahai Saudara Seperjuangan

Apakah Saudara seorang mahasiswa? Adakah organisasi yang Saudara ikuti? Ya, mahasiswa dan organisasi mungkin dua hal yang akan selalu berdampingan terlebih untuk para pemuda yang haus akan ilmu, haus akan pengalaman, dan haus akan pergaulan. Saudaraku, bukan barang baru bagi kita jika ada orang yang mengatakan bahwa sebuah organisasi adalah miniatur kecil dari sebuah masyarakat, bangsa, bahkan negara. Di dalam organisasi inilah mahasiswa ditempa dengan berbagai pengalaman yang membuka wawasannya agar ia siap hidup bermasyarakat kelak. Tak terkecuali organisasi yang saya maksud di sini adalah IMMSI (Ikatan Mahasiswa Muslim Akuntansi) Sekolah Tinggi Akuntansi Negara. Lalu apa yang seyogyanya kita lakukan agar organisasi ini hidup dan benar-benar mempersiapkan kita, para pemuda menyongsong kehidupan di masa depan? Jawaban yang klasik Saudaraku, yang kita perlukan adalah mengisi organisasi tersebut dengan kegiatan-kegiatan yang positif dan bermanfaat baik untuk pribadi-pribadi dalam organisasi tersebut maupun lingkungan sekitarnya.

Saudaraku, mahasiswa sudah barang tentu memiliki pikiran-pikiran idealis tentang kehidupan yang sedang dan akan dijalaninya. Namun, apakah pikiran idealis tersebut telah terimplementasi dalam kehidupan sehari-hari? Sudahkah setiap tutur, sikap, dan perilakunya mencerminkan idealisme yang ia dambakan? Tentu saja Engkau sendiri wahai Saudaraku yang mampu menanyakan jawaban atas pertanyaan ini pada hati nurani dan akal pikiranmu.

Saudaraku yang dimuliakan Alloh, ingin rasanya menyampaikan sepotong nasihat kepadamu dua perkara yang memiliki urgensi dalam berorganisai bahkan dalam kehidupan seluruh umat manusia. Kedua perkara tersebut adalah kedisiplinan dan kejujuran.

Pertama, kedisiplinan merupakan langkah kita untuk menghormati waktu. Alloh SWT berfirman dalam surat Al-‘Ashr, “Demi masa, sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh, dan nasihat    -menasihati supaya menaati kebenaran, dan nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran.” (QS. Al-‘Ashr 1—3) Kalau Alloh SWT bersumpah dengan menyebut nama waktu, itu berarti manusia diingatkan oleh Alloh agar jangan sampai manusia menyia-nyiakan waktu, sebab bila waktu tidak digunakan dengan sebaik-baiknya maka kerugian akan didapatnya, baik kerugian di dunia maupun akhirat. Sekarang kita kembali lagi pada realita yang terjadi dalam sebuah organisasi. Sudahkah dalam setiap kegiatannya dilakukan dengan disiplin waktu? Sudahkah individu-individu di dalamnya memiliki kecintaan terhadap waktu? Jawabannya akan menjadi sangat relatif bagi masing-masing organisasi. Namun, jika ditinjau secara umum masih saja banyak waktu yang terbuang percuma dalam kegiatan organisasi, contoh paling sederhana adalah istilah “jam karet atau jam molor” dalam memulai suatu acara yang diadakan oleh suatu organisasi. Apa jadinya jika dalam kondisi berperang kita terlambat barang satu atau lima detik untuk mengambil posisi menghadapi musuh? Tentu kehancuranlah yang terjadi. Tak jauh beda dengan birokrasi pemerintahan kita yang berjalan sangat lambat yang ini tiada lain disebabkan pribadi-pribadi yang tidak menghargai waktu. Yang perlu diperhatikan adalah disiplin waktu tidaklah lantas membuat kita menjadi pribadi yang kaku, angkuh, dan menghalangi diri dari keinginan untuk bersantai. Disiplin itu sesuai proporsinya, sesuai dengan apa yang telah kita rencanakan, jangan sampai ketika rencana telah dibuat namun tidak dilaksanakan sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan. Fleksibilitas tetap diperlukan di sini untuk hal-hal yang bersifat force majeur yang tentu tak dapat kita prediksikan dengan baik.

Kedua, kejujuran merupakan hal mendasar yang akan mempengaruhi akhlaq kita secara keseluruhan. Dengan kejujuran apa yang kita ucapkan dan apa yang kita lakukan adalah berlandaskan kebenaran dan realitas yang ada, tidak mengada-ngada. Bila kejujuran adalah kebenaran maka lawannya adalah dusta. Imam Ibnul Qayyim berkata, “Iman asasnya adalah kejujuran (kebenaran) dan nifaq asasnya adalah kedustaan. Maka, tidak akan pernah bertemu antara kedustaan dan keimanan melainkan akan saling bertentangan satu sama lain.” Allah mengabarkan bahwa tidak ada yang bermanfaat bagi seorang hamba dan yang mampu menyelamatkannya dari azab, kecuali kejujurannya (kebenarannya). Allah berfirman, “Ini adalah suatu hari yang bermanfaat bagi orang-orang yang benar kebenaran mereka.” (QS al-Maidah:119) Nabi menganjurkan umatnya untuk selalu jujur karena kejujuran merupakan dasar akhlaq mulia yang akan mengarahkan pemiliknya kepada akhlaq tersebut, sebagaimana dijelaskan oleh Nabi, “Sesungguhnya kejujuran membawa kepada kebajikan.” Di dalam organisasi kejujuran dapat dilihat pada pelaksanaan amanah yang diberikan kepada individu dalam organisasi tersebut, apakah ia benar-benar melaksanakan amanah sebagaimana mestinya dan apakah ia melaksanakan amanah tersebut dengan cara yang benar serta apakah ia mempertanggungjawabkan amanah tersebut dengan kesungguhan. Orang yang jujur bukanlah orang yang munafik, ia tidak akan berdusta, mengingkari janji, dan tidak pula berkhianat.

Saudaraku, dengan dua hal tersebut, disiplin dan jujur niscaya akan membawa efek positif yang luar biasa dalam organisasi. Organisasi tidaklah akan menjadi mainan belaka dan tak akan menjadi sekumpulan orang yang sia-sia. Organisasi akan menjadi suatu perkumpulan yang mumpuni dalam pembentukan pribadi-pribadi yang nantinya akan menjadi generasi penerus, tunas-tunas baru yang akan menjadi saksi perubahan peradaban dalam masyarakat yang heterogen, serta menjadi manusia-manusia yang mampu menjadi harapan masa depan, dambaan bangsa dan negara.

Saudaraku, bayangkanlah jika organisasi kita berjalan demikian, bayangkanlah jikalau pribadi-pribadi dalam IMMSI ini betul-betul ditempa dengan sifat disiplin dan jujur. Kelak ketika individu-individu ini baik dalam kondisi terpisah maupun bersatu dalam suatu masyarakat madani akan mampu membawa negara ini menjadi negara yang terbebas dari segala bentuk KKN, terbebas dari segala bentuk penindasan, dan menjadi negara yang baldatun toyibatun warobun ghofur. Maka wujudkan Saudaraku!

Salam,

Cahyo Dwi Mulyantoro

17 Romadhon 1432H

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: