Pertemuan dengan Gadis Berkerudung Merah

Waktu itu di siang hari, tepatnya lebih kurang 12.30 WIB sekitar bulan Oktober 2010 saatnya bagi saya dan rekan-rekan mahasiswa STAN (Sekolah Tinggi Akuntansi Negara) untuk memulai lagi perjalanan panjang menuju tempat pendidikan kami di Kampus Ali Wardhana STAN Tangerang Selatan. Saya dan rekan-rekan satu angkatan saat itu mulai memasuki semester ke-3 untuk pendidikan Diploma 3. Ya, tanpa terasa liburan kenaikkan tingkat yang panjang telah usai. Kami pun bersiap untuk berangkat dengan menaiki kereta api kami tercinta yaitu Brantas Express.
Cerita yang tersurat dalam judul ini bermula ketika saya dan keluarga yang mengantarkan saya saat itu sampai di Stasiun Kediri, tempat kereta yang akan kami naiki berangkat. Ketika akan memasuki stasiun saya melihat rekan-rekan sedang duduk berjajar di depan pintu stasiun dan di antara mereka saya mendapati seorang wanita sedang duduk bersama mereka. Wanita itu mengenakan baju dan kerudung merah, tapi entah bawahannya mengenakan pakaian warna apa saya kurang begitu memperhatikan. Seketika saya memperhatikan raut wajahnya dan yang dapat saya simpulkan saat itu wanita tersebut berumur setengah baya, ya mungkin seorang wanita yang kira-kira sudah berkeluarga dan memiliki anak. Saya pun mengira bahwa dia mungkin hanya satu dari sekian banyak orang yang akan merantau ke ibu kota sehingga saya tidak lagi memperhatikan wanita tersebut.
Setelah menunggu beberapa waktu akhirnya kereta kami berangkat pukul 13.00 WIB dari Stasiun Kediri dengan tujuan akhir Stasiun Tanah Abang, Jakarta Pusat. Dalam perjalanan saya baru menyadari bahwa wanita berkerudung merah tadi duduk di kursi seberang saya agak berjauhan tapi saya dapat memandangnya dengan cukup jelas karena posisinya berhadapan dengan duduk saya. Kini perhatian saya kembali lagi ke wanita itu. Sekarang ia terlihat lebih muda karena di sekelilingnya duduk para pemuda, ya kelihatannya memang mereka, termasuk wanita itu adalah sekumpulan mahasiswa yang berangkat bersama. Saat itu saya menerka mungkin mereka adalah mahasiswa UI atau ITB atau malah mungkin juga mahasiswa STAN sama seperti kami. Sepanjang perjalanan saya sering sekali menatap wanita itu memang dikarenakan arah duduknya sehingga saya tidak dapat menghindar. Dan ternyata memang benar setelah cukup lama saya perhatikan memang dia masih seusia atau usianya sedikit di atas saya.
Kereta kami terus meluncur dengan sesekali berhenti cukup lama di stasiun-stasiun yang dilewati. Meskipun demikian kami tetap melakukan sholat di dalam kereta karena kami tidak tahu pasti seberapa lama kereta kami berhenti di tiap-tiap stasiun. Seusai saya melaksanakan sholat, yakni sholat jama’ takhir magrib dan isya’ pandangan saya kembali tertuju kepada wanita berkerudung merah itu. Sepertinya ia baru saja dari kamar mandi untuk mengambil air wudhu dan kemudian ia juga melaksanakan sholat. Subhanalloh, dalam penglihatan saya saat itu ia tampak berbeda, ia tampak begitu cantiknya dan paras wajahnya begitu bercahaya. Jantung saya pun berdegup, saya mulai menaruh hati padanya. Namun, harapan itu mungkin sedikit tertepis dikarenakan saya berpikir bahwa ia lebih tua di atas saya. Menurut rekan-rekan, wanita berkerudung merah dan teman-temannya itu juga merupakan mahasiswa STAN. Sampai perjalan kami usai dan telah sampai ke tempat tujuan juga telah terpisah dari wanita berkerudung merah tadi saya tetap beranggapan ia adalah mahasiswi setingkat di atas saya. Namun, dalam hati kecil saya berharap dapat bertemu kembali dengannya.
Kami tiba di tempat tujuan pada hari minggu dan perkuliahaan dimulai hari seninnya jadi masih cukup banyak waktu untuk membereskan kamar yang sudah ditinggal berlibur lama dan juga masih banyak waktu untuk beristirahat dan mempersiapkan kuliah esok hati.
Keesokan hari, yakni hari Senin saya pun bersiap untuk berangkat kuliah seraya berdoa agar selalu diberikan kemudahan dalam segala urusan dan ilmu yang bermanfaat. Ketika memasuki ruangan kelas semua terlihat asing karena di kelas baru ini belum ada yang saya kenal. Saya mengambil tempat duduk paling belakang dikarenakan bagian depan kebanyakan telah terpenuhi terlebih dahulu. Setelah mengambil posisi duduk saya mulai memperhatikan sekitar, wajah-wajah baru yang belum ada satu pun yang saya kenal. Pandangan saya pun terhenti pada seorang wanita berparas cantik entah siapa namanya tapi yang pasti nanti saya juga akan mengetahui namanya dan juga nama teman-teman yang lain. Namun, setelah saya perhatikan wajahnya tampak tidak asing bagi saya dan ternyata memang benar ia adalah wanita berkerudung merah yang saya temui di kereta ketika berangkat. Dan sampai sekarang ia menjadi teman saya.
9 Oktober 2011-cerita ini terjadi lebih kurang setahun yang lalu dan tidak secara keseluruhan saya ceritakan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: