Kebohongan ataukah Kejujuran??

Melihat gambar di samping sudah barang tentu pikiran kita langsung tertuju pada salah seorang tokoh cerita fiktif anak-anak. Ya, namanya adalah Pinokio. Menurut cerita Pinokio awalnya adalah patung kayu buatan seorang tua bernama Gebetto. Karena Gebetto tidak memiliki istri dan juga anak maka dibuatlah patung tersebut untuk menemani kesendiriannya. Dan pada akhir cerita dibuatlah pinokio hidup bagai manusia oleh seorang peri yang baik hatinya. Tapi kali ini kita tidak akan mengulas cerita pinokio lho,,hehe

Satu keunikan dari pinokio adalah ketika ia berkata bohong maka hidungnya akan memanjang. Kalau kemudian ia berbohong lagi maka panjangnya akan bertambah pula begitu seterusnya. Apa jadinya ya kalau manusia beneran kayak gini? Pasti para koruptor, para pemamakan uang rakyat bakal ketahuan dan bakal malu tujuh turunan, enak di keturunan kedelapan dong….ahaha

Tulisan ini muncul di benak saya tidak lama setelah saya memperoleh mata kuliah yang kaitannya dengan etika. Dosen memulai dengan pernyataan ‘Profesi vs Etika’ Kemudian menanyakan apakah yang dimaksud profesi itu. Selanjutnya baru ditanyakan apa pentingnya etika terhadap profesi dan bisnis yang akhirnya pembahasan melalui diskusi berlanjut pada pertanyaan “Mana yang harus didahulukan, kebohongan ataukah kejujuran?” Kasus nyata adalah terungkapnya beberapa kebohongan pemerintah terkait kondisi perekonomian negeri ini. Dosen membuka dengan pertanyaan ringan kepada salah seorang mahasiswi karena menurut beliau wanita adalah lebih jujur dari laki2 (masak iya?). “Mbk, kamu seneng gak kalau punya pacar jujur?” tanya dosen. Jawab mahasiswi, “Tergantung situasi dan kondisi Pak.” Dosen pun bertanya lagi kepada mahasiswi lain dengan pertanyaan yang sama. Kali ini mahasiswi ini menjawab, “Iya Pak, saya seneng.” Lalu kemudian dosen bertanya kepada kepada seluruh mahasiswa, “Kalau kalian punya pacar lalu pacar kalian bilang habis jalan dengan cewek/ cowok lain kalian sakit tidak?” Tentu jawaban yang akan keluar adalah ‘sakit’.Dari sini dapatlah kita tarik benang merah bahwasanya kejujuran tidak selalu membuat orang lain senang. Dan bahkan mungkin yang terjadi adalah kebohongan akan menyenangkan dan kejujuran akan menyakitkan,,hoho

Bagaimana jadinya kalau pemerintah jujur sejujur-jujurnya terkait kondisi perekonomian negeri ini? Kesadaran dan pembenahan ataukah malah mengakibatkan konflik yang berkepanjangan? Tentu masing-masing memiliki pendapatnya sendiri, saya tidak akan memaksakan pemikiran saya. Semua pilihan akan memiliki konsekuensi sendiri-sendiri tergantung pilihan mana yang kita ambil dan cara kita mengeksekusi pilihan kita tersebut.

Sebagai tambahan ilmu berikut adalah beberapa jenis bohong yang diperbolehkan dalam Islam, saya kutip dari http://pondokhati.wordpress.com/2009/08/31/bohong-yang-boleh/ . Gambar di artikelnya sama bukan berarti saya nyontek beliau lho ya,,, memang kebetulan saja sama, saya baru tahu ketika saya searching tentang ‘Kebohongan yang diizinkan oleh Rosulullah’ dan secara kebetulan hasil pencarian teratas adalah link menuju artikel tersebut (serius ini T.T hiks,,,). Hmmm,,,yang penting ilmunya lah ya…..hehe. Berikut adalah kutipannya.

“Rasulullah bersabda bahwa ada tiga jenis bohong yang diperbolehkan, malah menjadi wajib dalam situasi dan kondisi tertentu. Mau tau apa aja? Yupp, ini dia…

  1. Bohong yang dilakukan oleh seseorang dalam rangka mendamaikan dua orang saudaranya yang sedang bermusuhan. Nah, ini jelas banget kan? Mungkin ada diantara kita punya dua orang temen yang saling bermusuhan. Dan tanpa sengaja, dua orang tersebut bercerita (curhat) kepada kita. Masing-masing dari mereka menjelek-jelekkan yang lain. Nah, dalam hal ini kita boleh tuh berbohong dengan mengatakan kalo yang mereka omongin tuh gak bener. Kita bisa berbohong pada masing-masing dari mereka dengan menceritakan kebaikan-kebaikan mereka pada masing-masing teman yang musuhan tadi. Hingga akhirnya, mereka berdua pun berdamai. Dan misi pun selesai. Hehe…
  2. Bohong yang dilakukan suami untuk menyenangkan istrinya atau bohong yang dilakukan istri untuk menyenangkan suaminya. Hoho… jangan diartikan macem-macem dulu. Contohnya gini. Seorang suami yang membelikan hadiah sebuah baju untuk istri tercintanya. Karena sang suami gak terlalu tahu mode pakaian yang lagi ngetren (fashionable), maka sang suami membeli baju yang.. katakanlah sangat kurang enak dipandang. Modelnya sudah kuno. Ditambah lagi warnanya ngejreng bangeet. Namun sang suami bermaksud menyenangkan istrinya dengan memberikan hadiah buat sang istri tercinta. Nah, meskipun tahu kalo baju pemberiannya sangat jelek, namun istri yang bijak akan menerima dengan senang hati. Dalam hal ini, istri boleh berbohong bahwa pemberian sang suami adalah pemberian terbaik yang pernah ia dapatkan. Tujuannya tidak lain adalah agar suami merasa senang karena pemberiannya diterima dengan baik. Gitu loooh..
  3. Bohong untuk menyelamatkan nyawa seseorang yang terancam. Contohya, misalkan ada seseorang (sebut saja namanya fulan) hendak dibunuh oleh orang lain. Padahal kita tahu, orang tersebut tidak bersalah apa-apa. Si fulan meminta perlindungan kepada kita agar dirinya diselamatkan. Dan kita pun akhirnya mau menyembunyikannya. Setelah itu, datanglah orang yang bermaksud membunuh si fulan kepada kita. Tujuannya bertanya kepada kita untuk mencari keberadaan si fulan. Maka pada saat ini, kita boleh berbohong demi kebaikan agar nyawa si fulan terselamatkan”.

Berikutnya saya ambil sebuah hadisht dari sumber lain, yakni Kitab Ringkasan Riyadhush Shalihin, sebagai berikut.

Bukhari-Muslim meriwayatkan dari Ibnu Mas’ud ra., dari Nabi SAW beliau bersabda: “Sesungguhnya kejujuran itu akan menuntun kepada kebaikan; sesungguhnya kebaikan itu akan menuntun ke surga; dan sesungguhnya orang yang senantiasa berlaku jujur akan dicatat si sisi Allah sebagai orang yang jujur. Sesungguhnya dusta itu akan menuntun kepada keburukan; sesungguhnya keburukan itu akan menuntun kepada neraka; dan sesungguhnya orang yang senantiasa bedusta akan dicatat di sisi Allah sebagai pendusta.”

Demikian, referensi tersebut semoga dapat memberi hikmah kepada pembaca dan setidaknya dapat memberikan tuntunan dalam menyelesaikan persoalan yang sebelumnya telah diungkapkan dalam artikel ini. So, mana yang kamu dahulukan? Kebohongan atau kejujuran??

Wallohu ‘alam…

2 Comments to “Kebohongan ataukah Kejujuran??”

  1. Bagus ih. Eh Yo,,,bukannya dicontoh ketiga dari cerita “Tiga jenis bohong yang diperbolehkan” itu Rasulullah mundur dulu ya beberapa langkah dari tempatnya semula,,,trus pas ada org yg nanya kemana si Fulan, beliau jawab,”sejak saya berdiri disini,,saya tdk melihat dia”. Begitu bukan si? Klo ia, jd sbenernya Rasul g bohong dong??? Contoh ptama dan kedua itu Rasul pnah ngelakuin sndri ga?
    Aku kok ya pas Etprof tadi agak janggal dlm hati,,,bohong kok jd semacam pemakluman. Mau protes tapi telat. Dan juga knpa endingnya mesti “jadi mana yang kamu dahulukan? Kebohongan atau kejujuran??” Knapa bukan “klo kamu bisa jujur, yaa.. gak usah bohong lah.”
    Jauh lebih baik utk org kyk ku yg mudah bgt didokrin org.

    • Wah,,,saya belum nemu hadist-nya feb…nanti bagi2 kalo kamu ketemu,,,menurut pendapat pribadi, kalo ceritanya memang benar demikian secara esensi niatnya tetap berbohong… ini bener2 dari pandangan pribadi, Wallohu’alam…

      Untuk contoh pertama dan kedua agaknya itu sekadar contoh yang diberikan oleh penulis dari artikel yang saya kutip…untuk yg point kedua, saya pernah denger kisah ketika rosul pulang ke rumah dan waktu itu istrinya aisyah sedang payah/ kelelahan (entah baru bangun dari tidur atau apa, agak lupa ceritanya). Ketika aisyah membuatkan minum untuk rosul yang dimasukin keliru garam, bukan gula. Dan ketika rosul meminum dan mengetahuinya beliau pun tidak marah dan berkata bahwasanya itu manis.
      Kalo dari beberapa hadist yg saya jumpai baru2 ini menyebutkan 3 hal diperbolehkannya berbohong adalah sebagaimana hadist berikut (dari internet, link: http://abuazzaaljawy.blogspot.com/)

      1. Hadits Ummu Kultsum:

      عن أم كلثوم بنت عقبة أخبرته : أنها سمعت رسول الله صلى الله عليه و سلم يقول : ليس الكذاب الذي يصلح بين الناس فينمي خيرا أو يقول خيرا

      Artinya:

      Dari Ummu Kultsum binti Uqbah mengkhabarkan bahwa dia mendengar Rosululloh صلى الله عليه وسلم bersabda: “Bukanlah pendusta orang yang mendamaikan antara manusia (yang bertikai) kemudian dia melebih-lebihkan kebaikan atau berkata baik”. [Muttafaqun ‘Alaih]

      Di dalam riwayat Al Imam Muslim ada tambahan:

      ولم أسمع يرخص في شيء مما يقول الناس كذب إلا في ثلاث الحرب والإصلاح بين الناس وحديث الرجل امرأته وحديث المرأة زوجها

      Artinya:

      “Dan aku (Ummu Kultsum) tidak mendengar bahwa beliau memberikan rukhsoh (keringanan) dari dusta yang dikatakan oleh manusia kecuali dalam perang, mendamaikan antara manusia, pembicaraan seorang suami pada istrinya dan pembicaraan istri pada suaminya”.

      [Dinukil dari Riyadhush Sholihin, Bab. Al Ishlah bainan naas]

      Hadits Ummu Kultsum ini diriwayatkan juga oleh At Tirmidzi (no.2063, Maktabah Asy Syamilah) dan beliau katakan, ‘Ini adalah Hadits Hasan Shohih’. Dan Abu Dawud (no.4920, Baitul Afkaar Ad Dauliyah)

      2. Hadits Asma’ binti Yazid diriwayatkan oleh At Tirmidzi dalam Sunannya yang redaksinya hampir sama dengan hadits Ummu Kultsum yaitu:

      عَنْ أَسْمَاءَ بِنْتِ يَزِيدَ قَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « لاَ يَحِلُّ الْكَذِبُ إِلاَّ فِى ثَلاَثٍ يُحَدِّثُ الرَّجُلُ امْرَأَتَهُ لِيُرْضِيَهَا وَالْكَذِبُ فِى الْحَرْبِ وَالْكَذِبُ لِيُصْلِحَ بَيْنَ النَّاسِ ». وَقَالَ مَحْمُودٌ فِى حَدِيثِهِ « لاَ يَصْلُحُ الْكَذِبُ إِلاَّ فِى ثَلاَثٍ ». قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ لاَ نَعْرِفُهُ مِنْ حَدِيثِ أَسْمَاءَ إِلاَّ مِنْ حَدِيثِ ابْنِ خُثَيْمٍ.

      Artinya:

      Dari Asma’ binti Yazid dia berkata: Rosululloh صلى الله عليه وسلم bersabda: “Bohong itu tidak halal kecuali dalam tiga hal (yaitu) suami pada istrinya agar mendapat ridho istrinya, bohong dalam perang, dan bohong untuk mendamaikan diantara manusia”.

      Mahmud berkata dalam haditsnya: “Tidak boleh berbohong kecuali dalam tiga hal”.

      Abu ‘Isa (At Tirmidzi) berkata, ‘Ini hadits hasan, kami tidak mengetahuinya dari hadits Asma’ kecuali dari hadits Ibnu Khutsaim’. [Sunan At Tirmidzi (2064) 7/408, Maktabah Asy Syamilah]

      Terkait kata-kata terakhir yang saya gunakan dalam artikel ini tidak lain adalah bermaksud agar pembaca bisa menemukan sendiri pentingnya kejujuran dari dalam hatinya dan tidak bermaksud untuk mendoktrin. Lagi pula pembaca juga harus mempertimbangkan mengenai bohong yang diperbolehkan agar supaya ketika menghadapi persoalan yang serupa pembaca tahu akan rukhsoh tersebut. Wallohu’alam…

Leave a Reply to mascah Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: