Mematahkan Teori Kekekalan Energi,,, Bisakah?

Pernah suatu ketika saat duduk di bangku SMA, saya memiliki ide gila dan mungkin tidak dapat diterima secara ilmiah terkait energi. Saat itu saya masih kelas 1 dan ilmu dasar science yang saya miliki masih sangat minim ditambah lagi pada saat itu daya imajinasi/ khayalan saya masih cukup tinggi sehingga menghasilkan ide yang aneh-aneh.

Pada waktu itu, di sekolah sedang hangat-hangatnya isu tentang kegiatan karya ilmiah. Oleh karenanya saya mencoba berpikir keras untuk menghasilkan gagasan sehingga muncullah ide menghasilkan energi listrik melalui perangkat skateboard yang dimodifikasi. Dalam hal ini saya ingin menciptakan alat transportasi dengan energi yang bersumber dari energi mekanik, yakni dari gerak skateboard itu sendiri untuk kemudian diubah menjadi energi listrik dan akan diubah menjadi energi mekanik lagi. Namun yang berbeda di sini adalah rumusan dalam rancangan yang saya buat energi listrik yang dihasilkan dari energi mekanik itu akan dapat saya tambah/ tingkatkan/ step-up. Sehingga pada saat energi listrik itu diubah lagi menjadi energi mekanik maka akan ada sisa energi listrik dan akan berlangsung siklus begitu seterusnya sehingga kumpulan energi listrik akan terus ada dan bahkan bertambah. Untuk sederhananya skateboard akan mampu bergerak dengan energi yang dihasilkan tersebut.

Namun ketika saya menyampaikan gagasan tersebut, tidak ada seorang pun yang berminat dan yakin akan rancangan saya tersebut bahkan mungkin dianggap mustahil dan merupakan ide yang cukup konyol. Tidak berhenti di situ, saya mencoba bertanya kepada salah seorang teman siswa SMK jurusan elektronika dan meminta pendapatnya tentang rancangan tersebut. Jawabannya tidak jauh berbeda, tapi ia menghibur saya dengan meyampaikan bahwa rancangan tersebut mungkin saja bisa tetapi kemungkinannya akan sangat kecil sekali berhasil, meskipun saya tahu bahwa ia berbohong untuk sedikit menyenangkan saya. Dukungan tidak ada begitu juga sumber pendanaan tidak tersedia akhirnya pun saya menyerah dan melupakan gagasan tersebut.

Lambat laun saya sadar bahwasanya teori kekekalan energi yang menyatakan bahwa ‘Energi itu tetap, tidak dapat diciptakan atau dimusnahkan’ adalah benar adanya. Energi yang masuk sama dengan energi yang keluar. Aksi akan sama dengan reaksi. Hal ini sama halnya dengan persamaan dasar akuntasi, bidang yang saya geluti sekarang, menyatakan bahwa aset adalah penjumlahan dari hutang ditambah dengan modal yang dalam perjurnalannya menggunakan sistem double entries sehingga akan selalu balance pada kedua sisi.

Meski demikian saya masih bertanya-tanya apakah mungkin teori kekekalan energi itu dibantah sampai saya mendapatkan sebuah kata dari dosen mata kuliah manajemen, yakni ‘sinergi’. Ya,sebuah kata yang menurut saya mampu mematahkan teori kekekalan energi itu adalah sinergi. Saya masih ingat betul apa yang dikatakan dosen saya tentang sinergi, “The whole is greater than sum of its parts”. Hal ini berarti mungkin saja penjumlahan  dari 1+1 hasilnya akan lebih dari 2.

Suatu sinergi itu bisa menembus batas-batas potensi yang dimiliki oleh masing-masing individu hanya dan hanya jika individu-individu tersebut mampu menyatukan diri dalam sebuah emosi yakni dalam sebuah kerja sama dan kebersamaan. Kerja sama yang dimaksud di sini bukanlah dengan membagi suatu pekerjaan kemudian dikerjakan secara individu untuk selanjutnya hasil dari pekerjaan tersebut disatukan kembali, bukanlah demikian. Kerja sama yang dimaksud adalah kerja sama yang stimultan antara beberapa individu tadi. Jadi, meskipun dalam aplikasinya terdapat tugas yang dibagi dan dikerjakan secara individu, rasa sepenanggungan, satu tujuan, dan satu kebersamaan akan dapat dirasakan. Itulah suatu kekuatan yang dinamakan sinergi di mana resultan dari gaya-gaya yang ditimbulkan akan melampaui penjumlahannya.

 

2 Comments to “Mematahkan Teori Kekekalan Energi,,, Bisakah?”

  1. Sama seperti kenapa energi gravitasi memiliki nilai negatif.. Ya karena alam semesta sebelum big bang jg seperti ini, setelah big bang, muncul massa + sedangkan disetarakan dengan gravitasi yang – sehingga intinya kekal deh. maaf klo salah

    • Oya energi gravitasi negatif? Saya lupa..haha
      Tapi pernah denger kok big bang itu mulanya titik yg bermassa tapi tdk memiliki volume ya? untuk gravitasinya sya gak paham..cmiiw

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: