Macet Dah!

Macet sudah menjadi hal yang lumrah dan bahkan tak terpisahkan dari ibukota tercinta, Jakarta. Di sana sini terus saja terjadi kemacetan, bukannya berkurang malahan meningkat tiap tahunnya. Untuk menempuh jarak yang relatif dekat saja misalkan Anda naik mobil pribadi atau lebih-lebih angkutan umum akan terasa menjadi luar biasa jauhnya. Lagi, jalan tol yang biasanya kita sebut sebagai jalan bebas hambatan, bagi jakarta sudah biasa macet. Bagaimana dengan jalan-jalan biasa lainnya? Tentu ini tidak diharapkan oleh semua kalangan, baik pemerintah maupun masyarakat. Logikanya, kalau banyak orang yang menginginkan dapat diatasinya kemacetan tentu kesemuanya akan berusaha bersama-sama untuk mengatasi kemacetan tersebut. Namun, kenapa kemacetan terus saja terjadi? Apakah tidak ada tindakan nyata dari pihak-pihak tersebut? Tentu upaya-upaya untuk mengatasi kemacetan masih terus berlangsung namun memang belum ditemukan formula yang tepat untuk mengatasi kemacetan ini. Setiap solusi yang ditawarkan selalu saja mengundang permasalahan yang baru sehingga usaha yang ada pun tidak berbuah hasil.

Dalam artikel ini saya akan menyampaikan pendapat saya seputar kemacetan dan mencoba memberikan solusi untuk mengatasi kemacetan. Menurut saya masalah kemacetan di Jakarta bisa dibilang sangat rumit dan begitu sulit untuk diatasi. Namun tentu saja ini bukan nilai mati, masih ada berbagai alternatif dan jurus yang dapat kita tempuh untuk mengatasi kemacetan tersebut. Meski demikian diperlukan waktu yang sangat lama dan ketegasan pemerintah dalam membuat kebijakan, lebih-lebih kesadaran masyarakat sendiri.

Untuk menemukan solusi atas kemacetan, sebelumnya kita perlu mengidentifikasi penyebab-penyebabnya dengan demikian bisa kita capai solusi yang terbaik dan tepat sasaran. Menurut saya ada beberapa penyebab kemacetan akut di jakarta, yang pertama adalah masalah infrastruktur, mungkin penyediaan fasilitas jalan raya di ibu kota sudah bagus, tetapi pemeliharaannya yang kurang. Liat saja di sana sini masih banyak kita jumpai jalan raya yang berlubang sekian lama dan tidak ada tindakan apa-apa dari pemerintah. Kedua mengenai akuntan umum, sudah banyak angkutan umum di jakarta namun pelayanannya masih jauh dari layak. Banyak sopir angkutan umum nakal yang tidak menaati peraturan lalu lintas, sering ngetem, dan ugal-ugalan di jalan. Sudah amat sering terjadi kemacetan hanya di karenakan angkutan umum yang ngetem di jalan sembarangan sehingga menghalangi pengemudi lainnya untuk lewat dan sering pula angkutan umum ini tiba-tiba saja berputar berbalik arah tidak mengikuti trayeknya sampai habis. Ketiga terkait jumlah kendaraan pribadi di jalan raya yang sudah tidah terkontrol dan melampaui batas kapasitas jalan raya kita. Tentu yang utama menjadi permasalahan adalah jumlah kendaraan ini karena kemacetan hanya terjadi jika dan hanya jika jumlah kendaraan telah melalui batas kapasitas jalan raya yang ada sekarang. Kalau jumlah kendaraan yang ada hanya sedikit tidak mungkin akan terjadi kemacetan bukan? Sebenarnya saking kompleksnya permasalahan kemacetan di jakarta masih banyak penyebab lain yang menimbulkan kemacetan parah ini. Namun, dalam kesempatan ini saya kira cukuplah kita membahas dari ketiga permasalahan tersebut.

Baiklah saya akan menyampaikan sedikit usulan saya atas solusi kemacetan di jakarta. Dari sisi infrastruktur saya rasa untuk pengadaannya sudah bisa dikatakan cukup baik, yang harus diperbaiki adalah dari segi pemeliharaannya. Diperlukan suatu mekanisme dan sistem yang lebih ringkas sehingga penanganaan terhadap infrastrukur yang bermasalah dapat secepatnya dilakukan. Tentu saja hal ini terkait erat dengan beragam peraturan yang dibuat legislasi dan pelaksanaan birokrasi di negeri kita tercinta yang terbilang amburadul dan lelet. Untuk masalah angkutan umum yang suka ugal-ugalan dan ngetem sembarangan juga terkait erat dengan kebijakan pemerintah. Setiap kebijakan harus dilaksanakan dengan tegas dan penuh tanggung jawab, jangan sampai peraturan sudah sebegitu bagusnya namun pelaksanaannya nol besar, ironi bukan? Masih banyak polisi lalu lintas kita yang seharusnya menertibkan lalu lintas dan memberikan sanksi bagi para pelanggar lalu lintas teramat mudah untuk disuap. Kemudian untuk membludaknya jumlah kendaraan pribadi di jalan raya saya memiliki usulan agar tiap warga negara diberikan pembatasan akan kepemilikan kendaraan pribadi. Apakah melanggar hak asasi? Menurut saya tidak karena mungkin kemacetan sebenarnya malah lebih melanggar hak asasi. Misal saya contohkan, yang berhak memiliki kendaraan pribadi baik beroda dua, tiga, empat, dan seterusnya minimal berumur 17 tahun dan maksimal yang boleh dimiliki adalah 1 kendaraan untuk masing-masing jenis kendaraan tersebut. Kesemuanya tidak akan terlihat mudah atau sulit sebelum berusaha untuk dilaksanakan namun tentu saja perencananaan yang lebih matang tetap sangat diperlukan sehingga tidak hanya sekadar coba-coba.

5 Comments to “Macet Dah!”

  1. “perencananaan yang lebih matang tetap sangat diperlukan sehingga tidak hanya sekadar coba-coba.” mantab kesimpulan e masbero,
    salam kenal, \blogger stan

  2. kalo saya melihat dari segi tata kotanya.. ya kalo bicara tata kota emang harus bicara infrastruktur.. kadang saya pernah mikir kalo diadakan pembatasan pembelian kendaraan bermotor. kalo sekarang berarti harus dilakukan pemusnahan.. mungkin bisa jadi solusi buat jakarta yang lebih lancar!

  3. oya, Salam Blogger STAN!
    ditunggu kunjungannya 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: