Penghalang Menghafal Ilmu

(Dikutip dari: Islam Happy Ending karya Abu al-Hasan ‘Ali bin Muhammad bin Habib Al-Mawardi)

Penyebab penghalang untuk menghafal ilmu setelah mampu memahami suatu makna adalah lupa yang timbul karena mengabaikan kekurangan dan bersikap tidak acuh pada kekeliruan. Sudah semestinya orang yang menderita hal itu menutupi kekurangannya dengan cara memperbanyak dan meningkatkan belajar dan bangkit dari kelalaiannya dengan cara melakukan kajian secara terus-menerus. Ada yang mengatakan, “Jika seseorang mengabaikan pelajaran dan tidak bekerja keras dalam mempelajarinya maka ia tidak akan mendapatkan ilmu.”

Banyak belajar akan menimbulkan kelelahan sehingga orang tidak akan bersabar melakukannya kecuali orang yang menganggap ilmu sebagai harta yang sangat berharga dan melihat kebodohan sebagai utang. Karenanya, ia berani mengahadapi berbagai bentuk kelelahan belajar untuk mendapatkan kepuasan ilmu dan terlepas dari jeratan kebodohan. Keagungan hanya dapat diperoleh melalui pengorbanan dan perjuangan yang besar. Kesuksesan yang diperolehnya sesuai dengan kadar minat dan kecintaannya. Ketenangan dan kepuasan diukur berdasarkan kelelahan dan keletihannya.

Ada juga orang yang mengatakan, “Mencari kepuasan dan ketenangan akan mengurangi istirahat.”

Seorang bijak mengatakan, “Sempurnanya kesuksesan terletak dalam perolehan yang tidak melelahkan, dan kemuliaan ilmu terletak dalam pencariannya yang tidak menimbulkan kehinaan.”

Terkadang seorang pencari ilmu merasa berat untuk mempelajari dan mengahafal pelajarannya. Setelah mampu memahami maknanya, ia malas merujuk dan mengkaji ulang buku sehingga ia seperti seorang pemburu yang melepaskan kembali buruannya karena merasa yakin bahwa ia mampu menguasainya sesudah bisa menikmatinya, padahal keyakinan yang berlebihan menimbulkan kemalasan, dan sikap yang berlebihan akan melahirkan penyesalan.

Kondisi tersebut dia atas akan mendorong seorang penuntut ilmu melakukan salah satu dari tiga hal berikut ini: memunculkan kemalasan untuk menghafal dan memeliharanya, atau timbul angan-angan berkepanjangan untuk memenuhinya ketika ia melakukannya, atau munculnya kekacauan dalam pikiran dalam mewujudkan cita-citanya, sementara ia tidak menyadari bahwa kejemuan dan kemalasan adalah penyebab kegagalan; angan-angan berkepanjangan adalah tipuan, dan kekacauan pikiran adalah bencana. Berkenaan dengan hal ini, seorang Arab badui mengibaratkannya dalam suatu ungkapan: “Satu huruf yang melekat di dalam hatimu lebih baik dari seribu huruf yang ada di dalam bukumu.”

Seorang ulama mengatakan, “Tidak ada kebaikan dalam ilmu yang membuatmu tidak mampu melewati jurang dan tidak membangkitkanmu untuk memakmurkan tanah yang lembab.”

Ar-Rabi’ membacakan syair gubahan Imam asy-Syafi’i:

Ilmuku selalu bersamaku di mana pun aku berada.

Hatiku menjadi wadah baginya, bukan perut peti.

Jika aku berada di rumah, maka ilmu menyertaiku.

Jika aku berada di pasar, maka ilmu pun menyertaiku.

Barangakali seorang pencari ilmu akan menaruh perhatian untuk mengahafalnya tanpa mampu menggambarkan dan memahaminya. Karenanya, ia menjadi seorang penghafal kata dari suatu makna. Meskipun selalu membacanya, ia tidak mampu menggambarkan pengertian dan tidak memahami kandungannya. Ia hanya meriwayatkan tanpa mengetahui apa yang diriwayatkannya dan memberitakan tanpa mengetahui apa yang diberitakan. Ia bagaikan sebuah buku yang tidak mampu menolak keraguan dan tak sanggup memperkuat argumentasi.

Diriwayatkan bahwa Nabi SAW bersabda:

“Tekad orang bodoh berupa cerita, dan tekad orang berilmu berupa pemeliharaan.”

Ibn Mas’ud r.a. mengatakan, “Hendaklah engkau menjadi pelindung ilmu dan janganlah menjadi periwayatnya. Sebab, ia akan menjaga orang yang tidak meriwayatkannya dan akan meriwayatkan orang yang tidak menjaganya.”

Hasan al-Bashri menuturkan hakikatnya dalam suatu perbincangan dan berkata kepada seseorang, “Wahai Abu Sa’id, dari siapa?” Ia menjawab, “Apa maksudmu dari siapa?” “Engkau telah mendapatkan bagian nasihat dan argumentasimu sangat kuat.”

Tidak jarang, seorang pencari ilmu terlalu mengandalkan hafalan dan penggambarannya, tetapi ia lupa mengikatnya dalam bentuk tulisan, karena  ia merasa yakin dengan kecerdasannya. Inilah kesalahan yang sering dilakukan seorang pencari ilmu, padahal keraguan selalu datang dan kealpaan senantiasa terjadi.

Anas bin Malik meriwayatkan bahwa Nabi SAW besabda:

“Ikatlah ilmu dengan tulisan.”

Dituturkan bahwa ada seseorang datang mengadukan kealpaannya kepada Nabi SAW. Beliau bersabda kepadanya, “Gunakanlah tanganmu.” Maksudnya: “Tulislah agar engkau bisa merujuknya kembali bila lupa.”

Al-Khalil bin Ahmad mengatakan, “Jadikanlah apa yang ada dalam buku sebagai modal, dan apa yang ada dalam hati sebagai nafkah.”

Mahbudz mengatakan, “Seandainya buku tidak mengikat pengalaman orang-orang terdahulu, niscaya tidak mustahil kita akan lupa mengikat pengalaman yang dialami oleh generasi terkemudian.”

Seorang ahli bahasa mengatakan, “Sesungguhnya ilmu akan lenyap dari akal pikiran. Oleh karena itu, jadikanlah buku sebagai pengikatnya dan pena sebagai penjaganya.”

Dan jika seorang penuntut ilmu tidak melakukannya, maka ia akan menghadapi banyak persoalan. Ia akan merasa ragu-ragu dalam mengungkapkan suatu makna sehingga menghalangi kemampuannya untuk menggambarkan dan mengetahui hakikatnya. Oleh karena itu, seorang penuntut ilmu harus menghilangkan keraguan dari dalam hatinya dengan bertanya dan mengkaji ulang agar bisa menggambarkan maknanya dan menemukan hakikatnya.

Berkaitan dengan hal itu, seorang ulama mengatakan, “Janganlah mengosongkan hatimu dari mengingat dan menelaah kembali agar tidak kering. Dan janganlah menjauhkan kebiasaanmu dari mengkaji ulang agar tidak menderita.”

Basyar bin Burd mengungkapkan:

Kesembuhan seorang buta dikarenakan banyak bertanya.

Langgengnya kebutaan disebabkan diam pada kebodohan.

Jadilah seorang penanya sesuatu yang menjadi perhatianmu.

Ajaklah saudaramu membahasnya dengan menggunakan akal.

Kemudian, terjadi pertentangan antara pikiran dan perasaan. Akibatnya, seorang penuntut ilmu mengabaikan pengggambaran suatu makna. Hal ini merupakan penyebab yang menimpa hampir setiap orang. Sedikit sekali orang yang menyadarinya, tidak terkecuali orang yang banyak memiliki keinginan. Akibatnya, yang demikian itu akan memperlemah keinginannya dan mengikis cita-citanya. Jika hal itu menimpa seseorang, maka orang yang di dalam jiwanya ada pertentangan pastialh tidak mampu memahami suatu makna. Dan orang yang di dalam hatinya ada kontradiksi niscaya tidak akan mampu memberikan suatu gambaran. Sebab, hati yang diliputi oleh kebencian akan selalu menghindar dan sulit menerima kebenaran dan kebaikan. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa, jika di dalam hati itu ada kebencian maka kebencian akan melemahkannya. Akan tetapi, menghindari sesuatu yang melemahkan hati merupakan masalah penting yang terabaikan atau pemikiran yang terputus.

Seorang penyair mengungkapkan:

Cukupnya kecintaan bukanlah suatu penolong,

bila tidak ada penolong di antara tulang rusuk.

Seorang bijak mengatakan:

“Hati terkadang melarikan diri seperti binatang liar. Oleh karena itu, jinakkanlah dengan kesederhanaan dalam belajar dan memperoleh kemajuan agar ketaatannya bertambah baik dan aktivitas yang dilakukannya akan langgeng.”

Demikian penyakit yang menghalangi para pendengar dalam memahami suatu makna.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: