Dibayar Kontan

Tengah malam itu seorang teman berusaha menghubungi Mas Nur agar segera mendatangi Stasiun Kediri untuk membeli tiket kereta api ekonomi tujuan Jakarta. Mas Nur dan kawan-kawannya ini akan berangkat ke Jakarta pekan depan untuk keperluan kuliah. Karena begitu capeknya, alhasil Mas Nur tidak terbangun dan baru membaca pesan dari temannya sehabis ia terbangun dari tidur.

Setelah memastikan bahwa tiket kereta masih bisa didapatkan, segera Mas Nur meluncur ke stasiun. Maklum, jarak antara stasiun dan rumah Mas Nur cukup jauh. Kira-kira perjalanan selama setengah jam apabila naik motor dipacu dengan kecepatan 60-80 km/jam.

Singkat cerita sampailah Mas Nur di stasiun dan menemukan antrean sudah mengekor panjangnya. Tiada kata lain bagi Mas Nur, ia pun akhirnya ikut mengantre. Antrean yang panjang itu sebelumnya hanya difokuskan pada satu loket pelayanan. Namun kemudian, tiba-tiba saja loket pelayanan ditambah satu lagi dan para pengantre pun berhamburan menemukan posisi terbaik mereka. Mas Nur karena masih bengong dan kedinginan sehabis perjalan jauh gerakannya kurang gesit sehingga tetap saja mendapat baris antrean terakhir dari antrean yang ada saat itu.

Di tengah antrean, ketika itu Mas Nur dan lainnya sudah antre selama hampir satu setengah  jam, ada kendala teknis yang membuat para antrean harus menunggu lebih lama lagi. Kendala hanya terjadi pada baris antrean sebelah kanan di mana Mas Nur sedang mengantre (yah, nasibnya Mas Nur). Tidak cuma itu, setelah kondisi pulih ada seorang anggota TNI yang dilayani oleh bagian loket pelayanan dalam waktu yang begitu lama. Padahal hal ini tidak terjadi pada antrean baris kiri yang lancar-lancar saja. Tak elak kondisi ini membuat para antrean menggerutu tak terkecuali seorang pemuda yang tengah antre di belakang Mas Nur. Usut punya usut pemuda ini adalah seorang mahasiswa yang saat ini tengah menempuh S-2 di kampus UIN Malang. Sedari tadi pemuda ini begitu tenang membaca buku dan ramah senyum kepada orang yang mengajaknya bicara atau sekadar melihatnya. Namun, ekspresinya menjadi cukup berubah ketika ingin mengkritik pelayanan yang diberikan oleh petugas loket kereta api. Petugas keamanan pun datang dan berusaha mengendalikan situasi serta menjelaskan penyebab lamanya pelayanan. Pemuda yang berada di belakang Mas Nur tadi kemudian menyampaikan kritik-kritiknya kepada petugas keamanan ini. Alhasil setelah cukup puas mengutarakan kekesalannya suana kembali menjadi tenang dan para antrean pun kembali menunggu dengan sabar.

Selang beberapa lama kemudian sang pemuda di belakang Mas Nur tadi menemui kenyataan bahwa tiket kereta tujuan Malang yang hendak dibelinya sudah habis. Pemuda ini pun tak lantas marah-marah. Dia malah memberikan senyum kepada orang-orang di sekitar yang tengah memperhatikannya. Yang membuat Mas Nur kagum dengan pemuda ini adalah ketika pemuda ini dengan tenang dan sabar memutuskan untuk mencari alternatif transportasi lain menuju Malang. Yang membuat Mas Nur lebih kagum lagi adalah ketika pemuda ini hendak pergi dari stasiun. Ia melemparkan senyum kepada antrean lain seraya berpamitan dan kemudian pergi menemui petugas keamanan stasiun tadi untuk meminta maaf atas kritikan yang telah disampaikannya tadi. Mungkin saja pemuda ini merasa kritikannya begitu diikuti oleh emosinya sehingga ia beranggapan kurang bijak jika meluapkan kekesalannya pada petugas keamanan tersebut.

Pelajaran yang dapat diambil Mas Nur dari kejadian itu adalah apabila kita berbuat salah hendaknya sesegera mungkin kita memperbaikinya dan kemudian meminta maaf jika kesalahan tersebut menyinggung perasaan orang lain. Meminta maaf bukanlah pecundang, justru dengan kelapangan hati meminta maaf dan mengakui kesalahan adalah perbuatan seorang kesatria (tapi jangan salah-salah terus ya, hehe). Pokoknya dibayar kontan saat itu juga. Dengan demikian hati tidak akan diliputi perasaan dengki dan dongkol (pikiran jadi tenang juga toh…. 🙂 ).

Setelah menunggu dan menunggu akhirnya tiba juga giliran Mas Nur untuk dilayani petugas loket pembelian tiket. Mas Nur pun pulang tidak hanya membawa tiket yang ia beli namun juga pelajaran berharga tentang kebesaran hati untuk menjadi pemaaf dan keberanian untuk mengakui kesalahan sekaligus meminta maaf. Wallohu a’lam.

-mascah-

2 Comments to “Dibayar Kontan”

  1. ia, semua peristiwa pasti ada hikmahnya 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: