Kota Santri

TuguHZMustofa

Grek…grek…grek… Mataku tiba-tiba saja terbuka kaget merasakan getaran dari sebuah kotak persegi panjang yang kutumpangi. Partikel-partikel energi berusaha kukumpulkan untuk mengetahui keadaan sekitar. Terlihat mobil-mobil dan truk-truk lalu-lalang dengan kecepatan cukup tinggi selebihnya hanya ada silhuet pohon-pohon di tepi jalan. Aku dengan seorang sahabatku juga para penumpang lainnya tengah menaiki bus jurusan Jakarta-Tasik. Ya, hari ini adalah hari jumat tanggal 15 November 2012 bertepatan dengan 1 Muharram 1434H. Para perantau mendapat libur cukup panjang selama empat hari, terhitung dari tahun baru hijriyah hingga akhir pekan nanti.

Gara-gara gak dapat tiket pulang kampung (Kediri, Jawa Timur) akhirnya kuputuskan untuk ikut liburan bersama sahabatku, Qital, ke rumahnya, Tasikmalaya. Oya, sahabatku yang bernama Qital ini adalah seorang hafiz (penghafal Al-Quran). Ia sesosok orang sederhana dan amat tawadhu’, begitu baik akhlaqnya dan tutur katanya. Begitulah Alloh telah memberikan kelebihan kepada sahabatku ini untuk menghafal firman-firman-Nya, subhanalloh…

Sesampainya di Tasik kami masih harus naik angkot dua kali sebelum mencapai rumah sahabatku. Tapi karena waktu sholat jumat sudah dekat, kami memutuskan singgah dahulu untuk menunaikan sholat jumat di masjid terdekat. Sebelum khotib naik mimbar suasana tampak biasa-biasa saja seperti halnya di kampung halamanku. Namun, suasana jadi berbeda ketika khotib menyampaikan khotbahnya dengan bahasa Sunda. Hari ini adalah kali pertama bagiku mengikuti sholat jumat yang khotbahnya menggunakan bahasa Sunda. Sungguh pengalaman berharga memang, tapi begitu khotib menyampaikan materi inti setelah pembukaan, benar-benar hampir tidak kuketahui isi khotbah yang disampaikan. Sudah kupasang telinga lebar-lebar tetap saja aku tidak mengerti bahasanya dan aku hanya bisa manggut-manggut tidak paham.

Selepas sholat jumat aku bersama sahabatku melanjutkan perjalanan ke rumahnya yang letaknya masih cukup jauh dari tempat kami melaksanakan sholat jumat. Di dalam perjalanan tersaji pemandangan alam yang masih asri, persawahan, bukit-bukit, gunung-gunung, dan ekosistem yang meliputinya. Selain itu sahabatku juga menunjukkan tempat ia menempa ilmu semasa kecil, TK dan SD. Sementara masa Tsanawiyah dan Aliyahnya tidak dijalani di daerah Tasik melainkan di semacam pondok pesantren daerah Kuningan. Di jalan banyak kutemui siswa-siswi yang baru pulang dari sekolah. Tampak ada sesuatu yang berbeda pada para siswinya, hampir semuanya menggunakan  kerudung. Tentu ini berbeda dengan sekolah lain pada umumnya, kebanyakan siswinya tidak berkerudung kecuali sekolah islam. Kupikir memang benar apa yang dikatakan orang-orang bahwa Tasik adalah Kota Santri. Hal ini diperkuat dengan banyaknya papan penunjuk pondok pesantren yang kutemui di tepi-tepi jalan.

“Assalamu’alaikum…” sahabatku menyapa ke dalam rumah sambil memasuki ruangan. Ibunda sang hafiz ini sedang membuat kue ketika kami datang. Alhamdulillah… sedari pagi hanya makan beberapa potong roti, siang ini dihidangkan oleh ibunya berbagai macam makanan di meja makan juga kue dan buah-buahan. Aku tidak banyak mengobrol dengan beliau karena ketidakmampuanku berbahasa Sunda. Setidaknya beliau bertanya dalam bahasa Indonesia mengenai asal daerahku dan juga maksud kedatanganku meski sebelumnya telah dijelaskan oleh sahabatku.

“Nak, udah pernah lihat nikahannya orang Sunda?”, tanya ibunda sahabatku. Besok lusa sebenarnya ada sepupu sahabatku yang akan melangsungkan pernikahan. Namun kami harus sudah berada di Jakarta hari minggu pagi sehingga kami tidak dapat menghadiri acara pernikahan tersebut. “Kalau di jawa itu acara nikahannya berhari-hari ya? Beda sama Sunda yang hanya sehari.” “Wah, belum pernah Buk. Iya, kalo di jawa memang acara akad dan resepsinya dipisah, paling tidak acaranya dua hari”, jawabku. Ibunda sahabatku kembali menimpali, “Ya, kalo gitu mending nyari orang Sunda aja biar gak repot, acara sehari selesai, hehe…”. Aku hanya tersenyum, sekalian berharap ditawari gadis Sunda dan ternyata tidak,,haha…

Siang hari kami gunakan untuk beristirahat melepas lelah setelah perjalanan lima jam dari Jakarta ke Tasik. Sore hari hingga magrib hujan turun deras disertai angin kencang sehingga rencana untuk bersilaturahim ke rumah sepupu sahabatku yang akan melangsungkan pernikahan tertunda. Sehabis sholat magrib dan ketika hujan sudah reda kami langsung meluncur ke TKP akan dilaksanakannya pernikahan. Tampak persiapan masih minim ketika kami sampai di TKP. Baru tenda-tenda bagian atap yang didirikan, sementara hiasan, dan pernak-pernik lain-lainnya belum keliahatan. Oya, selama perjalanan menuju TKP banyak kutemukan santri dan juga santriwati lalu-lalang menandakan di situ banyak terdapat pondok pesantren. Selesai waktu magrib pun suara-suara pengajian saut-sautan. “Benar-benar Kota Santri,” batinku.

Ketika para keluarga berkumpul dan roaming menggunakan bahasa Sunda aku benar-benar menjadi sangat bingung. Ya, bagaimana lagi, aku tak begitu mengerti bahasa Sunda. Alhasil aku diam dan menunggu kesempatan jika ada orang yang mengajak ngobrol dengan bahasa Indonesia. Di tempat itu aku dikenalkan dengan seorang rekan sahabatku yang bernama Banu yang asal Purworedjo, Jawa Tengah. “Akhirnya ketemu orang jawa juga,” gumamku. Banu ini begitu supel sehingga ia dapat cepat akrab dengan semua orang, termasuk orang-orang yang tinggal di rumah itu. Kupikir ia memiliki banyak kelebihan dan yang pasti tingkat percaya tingginya boleh dibilang luar biasa.

Keesokan harinya, hari keduaku di Tasik, kakak perempuan sahabatku beserta suami dan anak putrinya yang masih balita, bernama Hasna datang. Keluarga sahabatku benar-benar gembira atas kedatangan bidadari kecil ini. Ia begitu menyenangkan dan juga pintar. Ditambah lucu ketika lihat ia akrab sekali dengan boneka singanya. “Ya ampun, ia benar-benar mengajak dialog boneka singanya” tawa kecilku menyeringai.

Bagaimanapun juga aku begitu salut dengan keluarga ini. Nilai-nilai agama Islam dan penerapannya benar-benar terlihat nyata di keluarga ini. Pendidikan agama sudah ditanamkan sejak kecil, Hasna kecillah buktinya. Ia baru tiga tahun sudah hafal beberapa huruf hijaiyah, doa harian, dan lagu yang diajarkan kepadanya pun bernuansa Islam. Beda dengan kebanyakan anak-anak sekarang yang dari kecil sudah dijejali lagu-lagu orang dewasa bertemakan percintaan. Keluarga ini begitu nyata mengamalkan ajaran agama, subhanalloh…

Semenjak pagi ketika bangun untuk sholat shubuh aku benar-benar tidak tau apa yang akan kulakukan nanti. Mungkin hanya akan bersantai di rumah sahabatku menghabiskan waktu dengan mengobrol atau akan diajak sahabatku keliling kotanya, entahlah aku tidak memiliki ide apapun sampai sahabatku mengajak untuk berkeliling kampungnya. Kami bertiga (aku, Qital, Banu) berkeliling kampung sahabatku, ‘Cibereum’, entah bagaimana menyebutnya, logat jawaku tak bisa melafalkannya dengan benar. Menyusuri rel kereta dan persawahan yang masih lenggang pada pagi hari harusnya membuat pikiran jadi fresh, namun hal itu tidak berlaku padaku. Kepalaku agak pening, mungkin karena pola makanku yang keterlaluan teratur, akibatnya telat makan beberapa menit saja sudah menimbulkan efek yang luar biasa pada tubuh ini. Kuputuskan untuk terus menyusuri jalan yang kami lewati dan menikmati pemandangan sekitar meski fokusku benar-benar ke perut sekarang. Setelah berjalan cukup lama akhirnya kami mampir di sebuah warung bubur ayam dan wow,,, perut yang kosong kini telah terisi dengan semangkuk bubur ayam yang lezat disertai teh hangat.

Kejutan datang lagi, keluarga sahabatku mengajak pergi jalan-jalan bersama ke gunung Galunggung. Aku, sahabatku Qital, Banu, ayah dan ibu sahabatku, kakak sahabatku dan suaminya, dan tak lupa si malaikat kecil, Hasna berangkat ke gunung Galunggung dengan riang naik mobil yang disopiri oleh mang Agus, tetangga dekat sahabatku. Sebelum menempuh perjalanan ke Galunggung kami mengantarkan seserahan kepada calon mempelai pria yang akan melangsungkan pernikahan besok.

Perjalanan kami tempuh kurang lebih selama satu jam. Mobil sempat menderum keras, tidak kuat menanjak sehingga kami harus turun dari mobil untuk mengurangi muatan. Setibanya di tempat parkir Galunggung 600 anak tanggga telah menunggu kami. Sebelum menapaki anak tangga menuju kawah Galunggung kami singgah sebentar untuk sholat dhuhur. Banyak sekali kutemui wajah lelah orang-orang yang telah kembali menuruni anak tangga dari kawah. Namun bukan lelahnya orang stres, melainkan lelah yang diliputi kegembiraan. Memang berwisata ke gunung bersama keluarga adalah suatu momen yang menyenangkan setelah semingguan stres dengan pekerjaan di kantor. Hal ini lah yang tampak pada orang-orang yang kutemui.

Cuaca cerah agak sedikit mendung benar-benar mendukung perjalanan kami kali ini. Ayah sahabatku begitu semangat menaiki tangga paling dulu. Aku dan sahabatku mengikuti di belakanganya dan juga yang lainnya. Aku pun bersemangat menaiki tangga meski sebenarnya kuakui diriku agak takut ketinggian, toh sewaktu naik aku tidak melihat ke bawah so aku bisa berjalan menaiki tangga dengan cepat.

Subhanalloh,,,walhamdulillah,,, allohu akbar… Tuhan semesta alam telah menciptakan alam ini begitu indahnya, begitu rumit, dan amazing. Inilah Gunung Galunggung yang pernah meletus beberapa kali sepanjang perjalanan hayatnya. Letusan pertama terjadi pada tahun 1882 dan letusan terakhir pada tahun 1982. Kini gunung tersebut masih aktif, namun relatif stabil. Letusan gunung berapi menyisakan kepedihan dan duka yang mendalam memang, entah berapa banyak korban yang meninggal, luka-luka, harta benda lenyap, binatang ternak mati, dan kerugiaan baik moril maupun materiil lainnya. Di sisi lain pascaletusan beberapa dampak positif dapat dirasakan, lahan pertanian yang makin subur, lahan pekerjaan untuk penambangan pasir, dan lainnya.

Perjalanan menuju puncak tidak membuatku capek, puas malah karena disuguhkan pemandangan yang luar biasa indah. Kawah Galunggung terlihat jelas dengan mata kepalaku. Beberapa menit kemudian sahabatku mengajak mendekati kawah melalui anak tangga lain yang berbeda, namun tangga itu tidak sampai ke kawah tepat sehingga kami hanya mengambil posisi lebih dekat saja sekaligus mengambil gambar untuk dokumentasi.

Selepas dari kawah Galunggung mobil kami berjalan menuruni gunung menuju Cipanas yang berarti “air panas.” Ya, kami menuju pemandian air panas. Sebentar berendam di air panas barangkali mengurangi pegal-pegal di badan selepas capek jalan jauh. Sewaktu kami sampai di Cipanas cuaca memang sedang mendung dan siap hujan. Namun kami sempat menikmati berendam air panas sebelum hujan tiba. Terlihat jelas pada papan pemberitahuan bahwa “Dilarang berendam lebih dari 30 menit,” memang benar adanya. Baru beberapa menit berendam badan sudah tidak kuat menahan panasnya.

Hoaaam… Setelah sholat ashar sambil menunggu hujan reda aku agak sedikit mengantuk. Sedikit mengobrol dengan dua orang sahabat, Qital dan Banu memberi sedikit inspirasi. Bahkan kebanyakan orang sukses memulai dari nol, ya dari nol. Di balik kekurangannya, setiap orang memiliki potensi yang bisa dikembangkan. Banu ini juga bukan dari keluarga kaya tapi kini ia telah sedikit mengubah taraf hidupnya. Intinya “Manjadda Wajada, siapa yang bersungguh-sungguh ia akan berhasil.”

Sepulang dari Cipanas kami mampir di sebuah warung makan. Perut yang sedari tadi sudah keroncongan alhamdulillah terisi juga. “Benar-benar pola makan menjadi masalah,” keluhku. Ah,,,daripada mengutuki diri sendiri mending menikmati makanan yang ada.

Perjalanan sebenarnya tinggal beberapa menit lagi untuk kembali ke rumah sahabatku, namun mobil terpaksa putar balik ke tempat makan semula karena tas milik kakak sahabatku ketinggalan. Meski harus menempuh perjalanan yang bertambah lama, setidaknya barang-barang berharga milik kakak sahabatku selamat tak kurang suatu apapun. Karena waktu sudah magrib, kami mampir dulu di sebuah masjid untuk sholat di kawasan pusat perbelanjaan Kota Tasik. Malam itu begitu ramai tentunya karena malam minggu banyak muda-mudi yang keluar berbelanja ataupun sekadar berjalan-jalan.

Yap, kami semua telah sampai di rumah sahabatku dan ini artinya aku dan sahabatku harus segera bersiap-siap kembali ke Jakarta malam ini pukul 23.00 WIB. Setelah semua persiapan beres aku berpamitan kepada anggota keluarga sahabatku untuk mengucapkan terima kasih dan memohon maaf jika ada yang tidak berkenan. Yang membuatku agak berat untuk berangkat adalah si malaikat kecil, Hasna, tampaknya tidak mau kami pergi cepat-cepat. Yah, bagaimana lagi, besok pagi sahabatku sudah harus di Jakarta ada acara.

Akhirnya kami berangkat juga ke terminal naik mobil yang disopiri Mang Agus dan diantar oleh ayah sahabatku juga Hasna. Ketika sampai di terminal waktu masih menunjukkan kurang dari 23.00 WIB sehingga kami masih harus menunggu bis keberangkatan yang terakhir. Sengaja mengambil keberangkatan terakhir memang agar besoknya sampai di tujuan tepat pada waktu sholat shubuh. Sebelum kami berangkat aku sempat bertanya pada sahabatku, ”Motivasi apa yang membuatmu ingin menghafal Al-Qur an?” “Awalnya ya ikut-ikut lomba gitu dan menang, namun selanjutnya ada keinginan tersendiri…” entah bagaimana ia menjawabnya, aku benar-benar lupa apa yang ia katakan gara-gara aku begitu kantuk. Sepanjang perjalanan aku kembali tidur di dalam sebuah kotak persegi panjang menuju Jakarta.

6 Comments to “Kota Santri”

  1. Keren akh.. ajak-ajak dong

  2. kapan ya bisa ke Kediri 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: