Archive for July, 2014

July 10, 2014

Quick Count Kok Beda!

Rabu, 9 Juli 2014, Republik ini telah menyelenggarakan pesta demokrasi untuk menentukan presiden dan wakil presiden yang akan memimpin Indonesia lima tahun mendatang. Menurut saya pribadi pemilihan presiden (pilpres) kali ini adalah yang paling dramatis yang pernah saya temui di tanah air, maklum ini kesempatan pertama kali saya untuk ikut serta dalam pilpres meski akhirnya harus masuk pihak yang golput (golongan putih) karena tidak bisa menyalurkan hak suara di perantauan.

Pelaksanaan kampanye pilpres kali ini berjalan begitu menegangkan karena rakyat terpolarisasi menjadi dua kubu capres dan cawapres (satu atau dua kau, pilih yang mana?). Ditambah lagi peran dunia maya sekarang ini begitu dahsyat di mana banyak terjadi black campaign di berbagai media. Kawan bisa jadi musuh, musuh bisa jadi kawan, yang tetap kawanan dan tetap musuhan juga masih ada kok tenang saja.

Ketegangan dalam agenda lima tahunan negeri ini tidak terhenti sampai kampanye saja, pascapemilihan pun suasana masih diliputi ketegangan dikarenakan masing-masing pasangan capres dan cawapres mendeklarasikan dirinya sebagai pemenang berdasarkan hitungan cepat atau quick count yang dipublikasikan oleh beberapa lembaga survei dengan hasil yang berbeda. Empat lembaga survei memenangkan pasangan nomor satu sedangkan tujuh lembaga survei memenangkan pasangan nomor dua. Apa itu metode quick count? Bagaimana sebenarnya proses quick count itu? Kenapa hasilnya bisa berbeda? Hal ini membuat saya tergelitik untuk mencari tahu lebih lanjut mengenai quick count.

Metode quick count adalah sebuah cara atau proses perhitungan cepat hasil pemilu dengan menggunakan metode sampling dan kemampuan teknologi komunikasi. Quick count lahir dari kebutuhan untuk menjaga agar penghitungan suara pemilu tidak curang. Kalaupun ada kecurangan, diharapkan tidak mengubah siapa yang seharusnya menang atau kalah. Kalau hasil quick count tidak berbeda secara berarti dengan hasil KPU (Komisi Pemilihan Umum) maka kita akan yakin bahwa penghitungan hasil pemilu berlangsung secara benar, tidak ada kecurangan yang berarti. Tapi bila terjadi perbedaan yang signifikan antara hasil quick count dengan hasil penghitungan KPU maka salah satunya pasti salah. Ini bisa menjadi bahan dilakukannya penyelidikan lebih lanjut untuk menegakan kebenaran dari hasil pemilu.

read more »

Advertisements