Quick Count Kok Beda!

Rabu, 9 Juli 2014, Republik ini telah menyelenggarakan pesta demokrasi untuk menentukan presiden dan wakil presiden yang akan memimpin Indonesia lima tahun mendatang. Menurut saya pribadi pemilihan presiden (pilpres) kali ini adalah yang paling dramatis yang pernah saya temui di tanah air, maklum ini kesempatan pertama kali saya untuk ikut serta dalam pilpres meski akhirnya harus masuk pihak yang golput (golongan putih) karena tidak bisa menyalurkan hak suara di perantauan.

Pelaksanaan kampanye pilpres kali ini berjalan begitu menegangkan karena rakyat terpolarisasi menjadi dua kubu capres dan cawapres (satu atau dua kau, pilih yang mana?). Ditambah lagi peran dunia maya sekarang ini begitu dahsyat di mana banyak terjadi black campaign di berbagai media. Kawan bisa jadi musuh, musuh bisa jadi kawan, yang tetap kawanan dan tetap musuhan juga masih ada kok tenang saja.

Ketegangan dalam agenda lima tahunan negeri ini tidak terhenti sampai kampanye saja, pascapemilihan pun suasana masih diliputi ketegangan dikarenakan masing-masing pasangan capres dan cawapres mendeklarasikan dirinya sebagai pemenang berdasarkan hitungan cepat atau quick count yang dipublikasikan oleh beberapa lembaga survei dengan hasil yang berbeda. Empat lembaga survei memenangkan pasangan nomor satu sedangkan tujuh lembaga survei memenangkan pasangan nomor dua. Apa itu metode quick count? Bagaimana sebenarnya proses quick count itu? Kenapa hasilnya bisa berbeda? Hal ini membuat saya tergelitik untuk mencari tahu lebih lanjut mengenai quick count.

Metode quick count adalah sebuah cara atau proses perhitungan cepat hasil pemilu dengan menggunakan metode sampling dan kemampuan teknologi komunikasi. Quick count lahir dari kebutuhan untuk menjaga agar penghitungan suara pemilu tidak curang. Kalaupun ada kecurangan, diharapkan tidak mengubah siapa yang seharusnya menang atau kalah. Kalau hasil quick count tidak berbeda secara berarti dengan hasil KPU (Komisi Pemilihan Umum) maka kita akan yakin bahwa penghitungan hasil pemilu berlangsung secara benar, tidak ada kecurangan yang berarti. Tapi bila terjadi perbedaan yang signifikan antara hasil quick count dengan hasil penghitungan KPU maka salah satunya pasti salah. Ini bisa menjadi bahan dilakukannya penyelidikan lebih lanjut untuk menegakan kebenaran dari hasil pemilu. Penyelenggara quick count dan proses penghitungan oleh KPU harus diperiksa ulang dengan melibatkan ahli dan petugas berwenang.

Secara umum metode quick count yang dilakukan oleh para lembaga survei di antaranya: 1) mempersiapkan perangkat serta sistem pendukung untuk bisa memberikan data secara cepat ke pusat pengolah data; 2) memilih TPS sebagai tempat pengambilan data (sampel); 3) mempersiapkan relawan untuk mengambil sampel dan meng-input-kannya ke sistem data; dan 4) mengolah data yang telah didapat di pusat data dengan menerapan ilmu stasistik, dari olahan data inilah lembaga survei bisa menghitung secara cepat siapa pemenang pemilu.

Sebagaimana kita ketahui, metode sampling adalah salah satu metode pemilihan sampel dalam ilmu statistik dengan metode verifikasi hasil pemilihan umum, yang datanya diperoleh langsung dari sampel di lapangan. Teknik Pemilihan sampel, terdiri dari dua kelompok yaitu propably sampling dan non propably sampling. Penentuan banyaknya sampel inilah yang nantinya akan menentukan berapa persen margin error yang selanjutnya menentukan akurasi quick count yang dilakukan. Margin error adalah tingkat ketidaksesuaian antara data statistik yang diolah dengan kenyataan lapangan. Semakin rendah margin error-nya, maka tingkat akurasi kebenaran quick count juga akan semakin tinggi dan menjadi jaminan bagi pihak peneliti untuk mempertanggungjawabkan hasil penelitiannya secara ilmiah.

Hal yang dilakukan dalam penentuan sample pertama-tama adalah  mengetahui jumlah populasi terlebih dahulu. Kedua, menggunakan Tabel Kretjie dan Rumus Slovin untuk mendapatkan tingkat signifikansinya. Tingkat signifikansi diterjemahkan sebagai taraf kepercayaan yang berarti persentase kebenaran bukan secara kebetulan. Secara umum, angka yang digunakan adalah 0,1 atau 0,01 atau 0,05.

  • Jika taraf signifikansi 0,01 ini berarti taraf kepercayaan adalah 99%. Margin errornya adalah 1%.
  • Jika taraf signifikansinya 0,05 berarti taraf kepercayaan adalah 95%. Margin errornya adalah 5%.
  • Jika taraf signifikansinya 0,1 berarti taraf kepercayaan 90% Margin error adalah 10%

tabel kretjie

 

Pada tabel di atas, terdiri dari N yaitu populasi. 1%, 5% dan 10% . Sebagai contoh. Apabila seseorang ingin meneliti pada 888 sampel. Kemudian memilih margin error 1% (tingkat kesalahan 1% dan tingkat keyakinan benar 99%), maka orang tersebut harus mengambil sampel sebanyak 373.  Jika memilih margin error 5% (tingkat kesalahan 5% dan tingkat keyakinan benar 95%) maka ia harus mengambil sampel sebanyak 247. Jika memilih margin error 10% (tingkat kesalahan 10% dan tingkat kebenaran 90% berarti ia harus mengambil sampel sebanyak 205. Tabel Kretjie ini memudahkan kita menentukan jumlah sampel dan taraf signifikansi mulai dari 10 populasi hingga 200.000 populasi.

Bagaimana dengan Rumus Slovin ?

rumus+slovin2

Rumus Slovin :

N : Populasi

n : Sampel

α : Error tolerance

 

 

Contoh soal :

Berapa ukuran sampel minimum yang harus diambil dari populasi berjumlah 1000 dengan tingkat signifikansi 0,05

Jawab :

1000 / 1 + 1000 (0,05)^2 = 285,7143 = dibulatkan menjadi 286.

Penjelasan :

Artinya, jika seseorang ingin mengambil sampel pada 1000 populasi dengan margin error 5% dan tingkat kepercayaan 95%, maka orang tersebut harus mengambil sampel sebanyak 286.

Selain menentukan berapa sampel yang harus dijadikan penelitian (penentuan banyaknya sampel), sampel yang mana saja yang digunakan dan dianggap representatif tentu harus diperhatikan. Sebagai gambaran penulis akan sedikit membahas metode quick count yang dilakukan oleh CYRUS NETWORK (CN). CN menggunakan teknik multistage random sampling. Dimana setiap anggota populasi akan mendapatkan peluang yang sama untuk terpilih sebagai sampel. Model pengacakan dilakukan secara bertingkat yang dilakukan secara proporsional berdasarkan besaran populasi jumlah TPS. Dengan metode pengacakan tersebut akan didapatkan jumlah sampel yang proporsional sesuai dengan prosentase jumlah TPS di suatu daerah sehingga hasil quick count dapat digeneralisasi dan mencerminkan hasil pemilu dengan akurasi tinggi.

Jumlah sampel untuk quick count nasional 2000 TPS, quick count pilkada provinsi dan kabupaten/kota ± 300-400 TPS. (Bila jumlah TPS di suatu kabupaten/kota kurang atau sama dengan 400 TPS maka akan dilakukan real count atau semua TPS dijadikan TPS target). Penarikan sampel dalam survei yang dilakukan oleh CN dilakukan dalam dua tingkatan. Pada tingkat pertama sebaran dan jumlah TPS (menggunakan data sebaran TPS pada pemilu yang sedang dilaksanakan) nasional, provinsi, kabupaten/kota, diurutkan dari yang paling banyak hingga yang paling sedikit jumlah TPS-nya. Kemudian dipilih berdasarkan proporsi jumlah TPS. Pada daerah  yang memiliki lebih banyak TPS akan diambil sampel TPS yang lebih banyak. Begitu pula sebaliknya. Pada tingkat kedua, petugas lapangan akan mendatangi desa/kelurahan yang dijadikan target akan mendata seluruh TPS di desa/kelurahan itu. Kemudian, petugas lapangan akan mengacaknya hingga terpilih 1 (satu) TPS saja di desa/kelurahan tersebut.

Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa keakuratan suatu quick count ditentukan oleh berapa besarnya margin error, semakin rendah maka semakin akurat hasilnya. Selain itu keakuratan quick count juga dipengaruhi oleh metode sampling yang digunakan dan juga tahap pelaksanaannya. Oleh karena itu, menanggapi hasil quick count yang berbeda dari beberapa lembaga survei harus diteliti lebih lanjut apakah metode yang digunakan sudah dilaksanakan dengan benar. Jika tidak maka harus diselidiki lebih lanjut apa motif dibalik hal tersebut karena hasil quick count yang tidak dapat dipertanggung jawabkan akan memberi informasi yang menyesatkan bagi masyarakat yang lebih lanjut akan membentuk opini publik sehingga berpotensi adanya perpecahan.  Demikan pembahasan singkat mengenai quick count. Semoga bermanfaat.

-mascah-

 

Sumber:

http://blogjajatsudrajat.blogspot.com/2014/04/metode-quick-count_10.html

http://www.cyrusnetwork.co/cyrus/home/services/e4da3b7fbbce2345d7772b0674a318d5/quick-count#sthash.9gFMPFKt.dpbs

http://www.diskusilepas.com/2013/09/margin-error.html

http://nasional.kompas.com/read/2014/07/09/19195381/Jokowi.Kami.Berpatokan.pada.Lembaga.Survei.yang.Kredibel

6 Comments to “Quick Count Kok Beda!”

  1. Super,,,,statistikanya masih jalan…haha, tapi sorry cah, q sudah milih 2x, di perantauan aku pun bisa…hehe

    • walah, itu ambil dari sumber yg q tulis di bawah tulisan ini..
      gak bawa form a5 dr kampung mus, jadi gak bisa milih 😦
      andai sistem e-ktp udah maksimal ya…mungkin bs pake fasilitas itu… ah, tapi dengan penduduk kita yg seabreg perlu berapa server biar gak jebol klo diakses bersamaan..

  2. Oh, begitu ya. Terima kasih, Mas.
    Referensi yang oke untuk mengerjakan tugas…

    • Silakan dik, bahannya saya ambil dari link yang sudah dicantumkan di akhir tulisan… bisa dieksplor lagi lewat sumbernya asalnya karena basic saya bukan statistik.. semoga bermanfaat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: