Archive for February, 2015

February 10, 2015

Padang #first destination

Tulisan ini mulai saya ketik ketika hujan gerimis menyelimuti Ranah Minang, sama halnya seperti lima bulan lalu ketika pertama kali menginjakkan kaki di sini. Ya, suasananya persis sama seperti waktu itu. Hujan gerimis kemudian disusul hujan deras.

Senin, 18 Agustus 2014, ba’da magrib saya tengah bersantai di kos (daerah Cempaka Putih, Jakarta Pusat) sehabis pulang kantor. Tiba-tiba ada SMS masuk dari koordinator angkatan. SMS tersebut mengintruksikan kepada kami, pegawai magang Ditjen. Perbendaharaan untuk berkumpul di Gedung Ex-MA (dahulunya pernah dipakai untuk gedung Mahkamah Agung) Kantor Pusat Perbendaharaan keesokan harinya. Saya sendiri nggak yakin mengenai perihal yang akan disampaikan dalam pertemuan tersebut. Dalam batin saya cuma bergumam “Mungkin ini adalah waktunya,” waktu penempatan, waktu yang paling ditunggu dengan perasaan H2C (harap-harap cemas), waktu bagi kami untuk mengabdi kepada negara, waktu untuk meninggalkan kampung halaman, waktu untuk menapaki dan mengais rezeki di bumi Alloh yang luas.

Keesokan harinya pun kami datang berbondong-bondong ke kantor pusat menuju Gedung Ex-MA. Banyak sekali waktu itu spekulasi alasan mengapa kami dikumpulkan, mulai dari tes-tes yang akan kami lalui ataupun mengenai kepegawaian. Dan yang paling santer waktu itu adalah “Penempatan.” Sebuah kata yang amat keramat bagi kami.

Acara demi acara telah kami lalui mulai arahan mengenai kepegawaian sampai tanya jawab mengenai pola mutasi di Ditjen. Perbendaharaan. Maksud dari acara sendiri masih bias di pikiran kami, sampai pada saat pembacaan doa. “…pengumuman penempatan hari ini…” kurang lebih begitulah potongan isi doa yang dibacakan oleh petugas. Sontak hati ini makin was-was dan H2C. Jelas sudah maksud acara ini, hari menjadi hari keramat buat kami, Selasa Keramat.

Nama demi nama dipanggil untuk maju ke depan kemudian menerima SK CPNS dan sebuah surat sakti, SK Penempatan. Ada yang berekspresi biasa saja, senang, menerima dengan senyuman, menerima dengan lapang dada, bersedih, bahkan ada yang menangis. Waktu itu perasaan seketika menjadi campur aduk. Hati masih tak kuasa untuk membuka isi surat sakti dari amplop cokelat itu. Saya kuatkan mental untuk membuka amplop dan membaca isi surat tersebut. Dan terlihatlah “KPPN (Kantor

read more »