Penerimaan

Pernah suatu waktu saya jatuh hati pada seorang wanita. Singkat cerita kami mulai berkomunikasi setelah tahun lalu saya ngobrol-ngobrol dengan salah seorang teman lama, terus ngasih informasi kalau ia lagi single. Sedikit flashback, pertemuan dengannya berawal saat acara Masa Orientasi Siswa (MOS) di sekolah kami, saya kelas XI dan ia siswi baru kelas X. Saat itu agak fenomenal karena naksir begitu saja tapi tidak ada kelanjutannya (memang tidak berniat pacaran atau semacamnya, ngobrol sama cewek saja gemeter, haha).

Hari silih berganti obrolan kami semakin menjurus (eh, maksudnya obrolan saya yang menjurus). Sampai-sampai ia yang bertanya, “Mas berniat serius dengan saya ya?” saya jawab “Iya”. “Tapi saya belum siap berkomitmen mas”. Saat itu saya bilang kalau saya masih bisa menunggu. Obrolan pun berlanjut hal yang ringan-ringan dan lebih sering dicuekin sih, jadi obrolan satu arah.

Hari berganti saya tetap berharap dan menunggu waktu yang pas hingga saya bisa bertemu dengannya. Memang agak sulit bertemu karena kita bekerja di pulau yang berbeda. Pas ia pulang saya gak pulang, giliran saya pulang ia gak pulang. Sampai kesempatan datang pada tahun berikutnya kami bisa bertemu, di hari raya Idul Fitri (akhirnya setelah setengah tahun ada kesempatan juga, hehe). Dengan niat lurus saya ingin silaturahim ke rumahnya sekaligus menemui orang tuanya untuk meminta izin, tapi apa boleh buat ia masih belum berkenan. Mungkin bagi sebagian orang ini dianggap terburu-buru, tapi hingga saat ini saya tidak bisa menerima konsep pacaran, saya hanya memanfaatkan kesempatan sebaik mungkin. Akhirnya kami bertemu di salah satu tempat perbelanjaan di kota kami. Deg, agak sedikit gemetar begitu lihat ia dari jauh, dengan gaya jilbabnya yang khas saya bisa mengenalinya dari jauh. Baiklah dengan langkah yang dikuatkan saya beranikan menyapa. Obrolan kami agak sedikit kikuk sambil melanjutkan memilih-milih barang, ia mau beli sepatu buat ngantor waktu itu.

Sehabis belanja kami memilih salah satu cafe untuk ngobrol-ngobrol santai (gak santai bagi saya). Saya memesan minum, ia memesan camilan (dasar suka ngemil, wekekeke). Saya mulai merasa nyaman ngobrol dengannya. Sebelum pesanan kami habis, akhirnya saya memberanikan diri menjalankan sekenario yang telah saya rencanakan dari rumah, bisa dibilang jauh hari sebelum itu juga. Mulailah saya memunculkan keberanian mengatakan, keluh lidah tak berkutik ketika mengutarakan, sensasi yang baru pertama kali saya alami. Betul-betul susunan kalimat yang tadinya terasa gampang jadi amat sulit untuk diucapkan. Padahal harusnya cuma kalimat sederhana, “Dek, mas berniat serius dengan kamu, mau kah kamu?” Kalimat yang keluar pun jadi belepotan, semacam geje mengulang kata-kata yang sama (ketawa sendiri kalau ingat). Saat itu saya menyarankan untuk dipikir dulu, setidaknya sebelum ia balik ke pulau seberang sudah ada jawaban. Saya sudah siap menanggung risiko kecewa atau semacamnya, kesimpulan waktu itu peluang 50:50, begitu tipis antara iya dan tidak.

Hari-hari menunggu jawaban, penuh dengan dag-dig-dug, sampai-sampai agak sedikit demam. Bangunan serasa mau roboh setiap kali ada pesan masuk darinya. Mendekati hari keberangkatannya belum juga ada jawaban. Hingga suatu waktu ia menyampaikan pesan meminta izin perpanjangan waktu untuk memberi jawaban, ia ingin istikhoroh dulu. Setidaknya kejadian itu memberi sedikit angin segar bagi saya, tanda-tanda masih ada peluang, pikir saya, alhamdulillah.

 

Hari berikutnya di suatu pagi yang cerah, persis sehari sebelum keberangkatannya, ia memberi kabar kalau orang tuanya ingin bertemu dengan saya. Senangnya benar-benar tak terperikan waktu itu. Tentu saja saya tidak mau melewatkan kesempatan, serta-merta saya setuju untuk berkunjung ke rumahnya.

Dengan teknologi GPS tidak sulit untuk menemukan rumahnya. Begitu saya berhenti di depan rumahnya, mungkin saya terlihat sedikit mencurigakan, maka ibunya menghampiri saya. “Temannya **** ya?” “Iya bu”. Saya pun dipersilakan masuk dan ia menyambut di dalam rumah. Dengan penampilannya yang sederhana saya malah makin tersepona, aduhai wanita tercantik sedang ada di depan saya (baper, padahal ya biasa aja kalau secara logis).

Ibunya turut menemani kami mengobrol sebentar, sejurus kemudian mereka berdua mempersiapkan makan siang, tadinya saya memang diundang datang untuk makan siang. Masih agak sedikit kikuk pas makan, hanya ia yang menemani makan, sementara ibunya sedang menggendong cucu. Oya keponakannya ini hampir seumuran dengan keponakan saya, lagi lucu-lucunya. Pengen kali ngegendong tapi masih sungkan. Satu lagi ponakannya seumuran anak kelas 2 SD agak ceriwis tapi ngegemesin juga, haha.

Setelah makan kami ngobrol santai ke sana ke mari, baru setelah itu ayahnya bangun dari tidurnya dan mengobrol dengan saya. Saya baru tahu kalo ayahnya pensiunan pemkot Kediri di dinas pendapatan. Akhirnya ayahnya cerita panjang lebar tentang masa mudanya, mulai dari nol hingga sampe pensiun. Saya pun dengan hikmat mendengarkan cerita beliau. Untuk ukuran pensiunan ayahnya ini masih tergolong sehat karena sering gowes sama kawan-kawannya, meskipun kalo dilihat dari luar kayaknya agak payah untuk beraktivitas. Terasa lama sekali, saya bingung mau ngepotong, akhirnya pasrah dan mendengarkan sampai selesai. Lewat adzan ashar akhirnya saya bisa ngobrol lagi dengannya beberapa menit, lagi-lagi sambil nemenin nyamil, wekekeke. Karena sudah makin sore saya undur diri dulu.

Semenjak kejadian itu saya rasa hubungan kami ada kemajuan. Kami jadi sering berkomunikasi. Dan ia pun jadi gak sungkan cerita sama saya. Hari demi hari berlalu hingga kami sudah di tempat kerja masing-masing. Obrolan kami juga makin intens. Entah mengapa saya jadi sangat berharap sekali, harapan untuk diterima seperti diangkat ke angkasa tak peduli seberapa sakitnya nanti jika jatuh. Sementara di sisi lain saya juga merasa digantung karena ia belum juga memberi jawaban. Ia berulangkali hanya mengucapkan “InsyaAllah jawabannya tidak mengecewakan”. Tidak lupa saya juga sholat istikhoroh, memohon petunjuk agar diberikan yang terbaik. Sekitar dua minggu setelah saya kembali bekerja akhirnya ia memberikan jawaban. Saat itu siang hari di hari jumat. Saya meminta agar jawabannya disampaikan malam hari saja agar saya tidak kehilangan konsentrasi saat kerja.

Tibalah saat malam tiba, kala itu saya tengah keluar makan malam dengan seorang kawan yang kebetulan menginap di tempat saya. Jawaban disampaikan melalui pesan singkat. “Astaga”, saya masih terpatung membaca pesan singkat darinya yang agak panjang itu. Beberapa menit saya tidak tahu harus bagaimana, meraba-raba apa yang sebenarnya telah terjadi. Akhirnya saya menceritakan hal itu kepada teman saya dan saya belum merasakan apa-apa, lebih tepatnya saya bingung bahkan dengan diri saya sendiri, meskipun balasan yang saya sampaikan kepadanya saya kira cukup bijak saat itu.

Barulah sesampai rumah, ada perasaan hampa yang luar biasa. Oh tidak, saya tidak sadar telah mengeluarkan air mata. Makin saya cerna kalimatnya kondisi saya makin drop. Untung hari sabtu dan minggu ada kawan yang menemani saya sehingga agak sedikit terhibur. Namun setelahnya jangan ditanya. Awal-awal terus terang saya tidak terlalu berkonsentrasi saat bekerja. Saya terus menghindar setiap ada namanya dalam setiap media sosial, membayangkan dia sudah bersanding dengan orang lain, bahkan mungkin bisa jadi orang yang saya kenal. Paranoid semakin menjadi-jadi. Berhari-hari kesedihan melanda. Benar-benar hari yang sulit.

Hingga beberapa minggu kemudian saya ingat akan nasihat salah seorang penulis hampir dalam setiap novelnya (beberapa novelnya yang pernah saya baca di antaranya novel Rindu, Hujan, Pulang, dan beberapa yang lain). Tere Liye selalu memberikan nasihat tentang apa itu “penerimaan”. Ada kutipan menarik dalam novelnya yang berjudul Hujan “…Tetapi sesungguhnya, bukan melupakan yang jadi masalahnya. Tapi menerima. Barangsiapa yang bisa menerima, maka dia akan melupakan. Tapi jika dia tidak bisa menerima, dia tidak akan pernah bisa melupakan.” Konsep yang saya pelajari dari pemikiran Tere Liye tentang penerimaan ini adalah bahwa dalam setiap masalah atau kenangan pahit bukan melupakan yang utama, tetapi memeluk kenyataan-kenyataan tersebut dan berdamai dengannya. Semakin kita ingin melupakan maka kenangan itu akan semakin menghantui kita. Semakin kita mensugesti untuk melupakan maka secara tidak sadar kita telah mengingat berulang kali hal yang ingin kita lupakan.

Ada lagi nasihat yang cukup menyegarkan bagai oase di tengah tandusnya padang pasir (asiiik), nasihat dari salah seorang syech yang terkemuka. Syech Ahmad Ibnu Atho-illah ra berkata dalam kitabnya, Al Hikam, “Arih nafsaka minat tadbiri……dst, yang artinya tenangkan nafsumu (keinginanmu) dari urusan tadbir (yakni bersusah-payah dan merasa risau di dalam mengatur keperluan-keperluan hidup) karena apa yang diatur tentang urusan dirimu oleh selainmu, tidak perlu engkau campur tangan (yakni janganlah engkau mendirikannya pula untuk dirimu sendiri)“. Yang dapat saya tangkap dari nasihat ini adalah bagaimana memunculkan peran Sang Maha Pencipta dalam setiap langkah kita. Peran kita hanya berusaha sedangkan hasilnya sudah ada yang menentukan. Hal ini terkait juga bagaimana kita mengelola pengharapan atas sesuatu. Bagaimana kita menanamkan khouf dan raja’ kita. Sebegitu mendasarnya nasihat ini sehingga kita tidak akan mengalami sedih yang berlebihan atas segala sesuatu yang terjadi.

Bahwa ia mengatakan tidak adalah suatu kenyataan. Tapi saya memperoleh pelajaran berharga bagaimana memunculkan keberanian dan mengolah pengharapan. Terima kasih atas pengalamannya, terima kasih juga kawan-kawan yang sudah support sehingga saya bisa bangkit lagi.

Padang, 18 Agustus 2016

cahyo

Advertisements

One Comment to “Penerimaan”

  1. Semangat cah…benar cara melupakan adalah menerima secara iklas…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: