Tikai Pendapat

Tulisan ini saya buat karena keprihatinan dan ketakutan yang cukup kuat yang membuat saya tidak tahan lagi untuk tidak ikut menyuarakan pendapat mengenai kondisi yang akhir-akhir ini terjadi di internal umat islam. Mohon izin tulisan ini hanya saya tujukan kepada rekan-rekan, kawan-kawan, dan sodaraku sekalian yang beragama islam. Dan juga tulisan ini merupakan pendapat saya pribadi dan tidak mewakili pihak mana pun.

Izinkanlah orang yang miskin ilmu, bukan ahli ibadah, dan masih sering bermaksiat ini sekadar menyampaikan uneg-uneg biar pikiran plong. Sebagaimana yang kawan-kawan ketahui, akhir-akhir ini banyak terjadi pertikaian pendapat (red) di negara kita khususnya melalui media sosial (medsos) dan media-media elektronik lainnya. Beberapa hari ini saya merasa miris melihat dan membaca berbagai postingan dan komentar yang ada di medsos (facebook=fb). Saya menggunakan fb sudah sejak lama semenjak tahun 2009. Cukup banyak manfaat yang saya peroleh seperti informasi terbaru, sharing untuk menyelesaikan tugas kuliah, terhubung dengan teman yang jauh, dan lain sebagainya. Dari sekian banyak manfaat itu tentu ada beberapa nilai minusnya yang tanpa saya sebutkan pun kawan-kawan sudah tahu. Tapi itu dulu, satu-dua tahun belakangan ini di medsos dan media elektronik lainnya bermunculan berita-berita yang sifatnya tidak dapat kita jadikan pegangan begitu saja. Kita dibingungkan dan tidak tahu lagi mana berita yang benar-benar fakta dan mana berita yang istilahnya di-framing. Karena berita yang di-framing ini kalo kita lihat bentuknya selayaknya berita yang benar-benar menyampaikan fakta. Terlebih lagi sekarang ini banyak provokator yang kita temui di medsos karena begitu mudahnya untuk membuat sebuah berita. Akibatnya timbullah apa yang saya sebut sebagai pertikaian pendapat di atas.

Sudah saya singgung sebelumnya, ruang lingkup tulisan ini terbatas pada pertikaian pendapat di internal umat islam sendiri. Entah sudah berapa banyak saya membaca postingan dan komentar di fb yang isinya perdebatan antara kawan-kawan sesama muslim. Kalau masalah perbedaan dan perdebatan pendapat saya rasa bukan hal baru lagi, tapi yang terjadi sekarang saya kira sudah sangat tidak sehat. Dulu perbedaan pendapat itu sudah menjadi hal yang wajar terutama kalau di kampung saya perbedaan fiqih antara NU dan Muhammadiyah. Berlanjut SMA dan kuliah makin banyak aliran-aliran dan/atau ormas islam yang saya tahu namanya. Ini pun saya tanggapi dengan santai. Saya lahir di lingkungan yang biasa yasinan, tahlilan, maulidan, dan lain sebagainya. Saya juga berteman baik dengan kawan-kawan yang tidak setuju dengan kegiatan tersebut, pun saya juga berteman dengan non-muslim yang bahkan sering menginap di kos saya. Saya rasa seperti itu begitu indah ketika kita bisa menghormati perbedaan pendapat di antara kami. Saya menghormati islam yang disebut bergaris keras (sebutan islam bergaris keras yang saya maksud di sini bukan seperti teroris atau semacamnya, yang saya maksud adalah kawan-kawan saya yang memiliki semangat belajar dan membela kebenaran yang tinggi) sebagaimana saya menghormati islam yang disebut moderat (biasanya ada pertimbangan sendiri). Saya rasa keduanya memiliki hubungan simbiosis mutualisme di sana, di mana yang satu memiliki kemauan untuk terus bergerak dan yang satu memiliki nasihat yang baik. Sekarang ini hemat saya ada perseteruan yang hebat dua kubu di tingkat bawah antara islam yang disebut bergaris keras dan islam yang disebut moderat ini.

Melalui tulisan ini saya memohon kepada kawan-kawan untuk menghormati adanya perbedaan pendapat. Sampaikan pendapat dengan cara yang elegan, pendapat yang tidak memiliki unsur provokasi. Mari kita hindari postingan atau tulisan yang baik secara langsung ataupun tidak langsung menyindir salah satu pihak (note to myself). Mari kita terima dan pelajari kritik yang membangun, mari kita abaikan dan hindari kritik yang merusak. Mungkin kita menyebut suatu tulisan merupakan bentuk provokasi bahkan tulisan ini bisa jadi seperti itu jika beda-beda orang yang membacanya. Pun bisa jadi ketika kita mengatakan atau mengingatkan ada yang sedang memecah belah kita, masih terbersit di hati kita meremehkan satu dengan yang lain. Mohon maaf jika ada perkataan yang kurang berkenan. Sebenarnya ingin menuliskan lebih banyak kata-kata lagi, tapi kondisi kesehatan tidak mendukung. Semoga kita dikembalikan ke keadaan damai kembali. Sekian.

Padang, 15 Jan 2017

mascah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: