Archive for ‘sastra’

February 10, 2012

Pak, Lencana KORPRI-nya Kok Usang Gitu?

Entah habis makan apa hari itu saya lupa,,,

Kisah bermula ketika saya bersama salah seorang teman saya tengah sibuk menata buku-buku milik perpustakaan IMMSI (Ikatan Mahasiswa Muslim Akuntansi) di lingkungan kampus untuk dipinjamkan. Pagi itu kampus masih cukup sepi seperti biasanya. Tiba-tiba datanglah seorang bapak-bapak menghampiri kami dengan berpakaian batik lengkap dengan lencana KORPRI-nya yang tampak usang layaknya pegawai negeri sipil yang udah puluhan tahun  mengabdi. Awalnya bapak itu bertanya-tanya seputar buku yang kami jajakan kemudian entah bagaimana pembicaraan kami banyak berkisar tentang Universitas Islam Negeri, ya mungkin juga karena buku yang kami jajakan hampir sebagian besar seputar islam.

Merasa aneh sebenarnya ketika bapak itu pertama kali datang. Menurut analisis saya (hehe) beliau itu salah satu dosen di kampus. Namun, setelah memperhatikan penampilannya yang benar-benar ganjil, saya menjadi bertanya-tanya. “Seorang dosen biasanya gak terlalu formal-formal gini…” “Apa beliau salah seorang pegawai sekretariat kampus ya?” ” Bukan”, tepis saya. Kami berdua pun diajak ngobrol ngalor-ngidul sedang kami hanya membalas dengan senyuman dan tidak dikasih waktu untuk menyela pembicaraan. Sebenarnya dongkol dalam hati saya waktu itu karena saya sudah terlambat jam perkuliahan akan tetapi takut-takut si bapak itu bakalan tersinggung.

Selang beberapa waktu, seorang berbadan gede datang mehampiri kami pula, security kampus maksudnya. Security itu merangkul bapak-bapak itu dan memberikan kode kepada kami. Ia mengangkat dan menempelkan jari telunjuk kanannya di wajahnya sendiri miring 45 derajat dari kiri atas ke kanan bawah kemudian bersama angin lalu membawa bapak itu pergi dari hadapan kami. “Padahal saya kan belum bertanya kenapa lencana KORPRI-nya si bapak tadi sampek usang gitu,,,ihhh…” gumam saya dalam hati. (mascah)

Advertisements
December 6, 2011

Engkau Jaga Hatiku

 

dulu aku pernah berdoa

pintaku agar aku selalu ditunjuki jalan kebenaran

kemudian aku berdoa

aku minta ini itu

sebagian terkabul

sebagian tidak

terkadang tidak sesuai keinginanku

namun

terkadang melebihi raja’ ku

di usiaku yang muda

bibir ini berdoa

agar dipertemukan dengan jodohku

namun ia tak kunjung datang

ketika datang sesosok rupawan

aku berdoa lagi dalam hatiku lirih

dekatkanlah jika memang takdirnya dekat

jauhkan jika takdirnya jauh

ia pun menjauh

beberapa kali berulang

namun tak putus doaku

sama seperti doa-doa sebelumnya

kudapati hal yang sama pula

dalam lubukku aku memohon

agar Engkau jaga hatiku

sampai datang yang telah ditentukan untukku

September 17, 2011

Kau Ini Bagaimana atau Aku Harus Bagaimana

Kau Ini Bagaimana atau Aku Harus Bagaimana

Kau ini bagaimana, kau bilang aku merdeka, kau memilihkan untukku segalanya

Kau suruh aku berpikir, aku berpikir kau tuduh aku kafir

Aku harus bagaimana

Kau bilang bergeraklah, aku bergerak kau curigai

Kau bilang jangan banyak tingkah, aku diam saja kau waspadai

Kau ini bagaimana

Kau suruh aku memegang prinsip, aku memegang prinsip

Kau tuduh aku kaku

Kau suruh aku toleran, aku toleran kau bilang aku plin-plan

Aku harus bagaimana

Aku kau suruh aku maju, aku mau maju kau slimpung kakiku

Kau suruh aku bekerja, aku bekerja kau ganggu aku

Kau ini bagaimana

Kau suruh aku takwa khotbah keagamaanmu membuatku sakit jiwa

Kau suruh aku mengikutimu, langkahmu tak jelas arahnya

Aku harus bagaimana

Aku kau suruh menghormati hukum, kebijaksanaanmu menyepelekannya

Aku kau suruh berdisiplin, kau menyontohkan yang lain

Kau ini bagaimana

Kau bilang Tuhan sangat dekat, kau sendiri memanggil-manggilNya dengan pengeras suara setiap saat

Kau bilang kau suka damai, kau ajak aku setiap hari bertikai

Aku harus bagaimana

Aku kau suruh aku membangun, aku membangun kau merusakkannya

Aku kau suruh menabung, aku menabung kau menghabiskannya

Kau ini bagaimana

Kau suruh aku menggarap sawah, sawahku kau tanami rumah-rumah

Kau  bilang aku harus punya rumah, aku punya rumah kau meratakannya dengan tanah

Aku harus bagaimana

Aku kau larang berjudi, permainan spekulasimu menjadi-jadi

Aku kau suruh bertanggung jawab, kau sendiri terus berucap huwallahulam bishowab

Kau ini bagaimana

Kau suruh aku jujur, aku jujur kau tipu aku

Kau suruh aku sabar, aku sabar kau injak tengkukku

Aku harus bagaimana

Aku kau suruh memilihmu sebagai wakilku, sudah kupilih kau bertindak sendiri semaumumu

Kau bilang kau selalu memikirkanku, aku sapa saja kau merasa terganggu

Kau ini bagaimana

Kau bilang bicaralah, aku bicara kau bilang aku ceriwis

Kau bilang jangan banyak bicara, aku bugkam kau tuduh aku apatis

Aku harus bagaimana

Kau bilang keritiklah, aku keritik kau marah

Kau bilang carikan alternatifnya, aku kasih alternatif kau bilang jangan mendikte saja

Kau ini bagaimana

Aku bilang terserah kau, kau tidak mau

Aku bilang terserah kita, kau tak suka

Aku bilang terserah aku, kau memakiku

Kau ini bagaimana

Atau aku harus bagaimana

Gus Mus, 1987 M